Rabu, 29 September 2010

fo(u)rplay pameran seni kriya empat kota

fo(u)r-play
kwartologi seni kriya indonesia
sebuah pameran seni kriya empat kota

awalan.

fo(ur)play adalah sebuah projek pameran seni kriya yang di garap oleh beberapa mahasiswa dari empat kota di Indonesia, empat kota tersebut ialah : Jakarta, Jogja, Solo ,dan Bandung. Projek ini di motori oleh mahasiswa kriya dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selaku tuan rumah penyelenggaraan pameran seni kriya ini. Pameran ini bertempat di Galeri Japan Foundation, gedung summitmas, jl.jendral Sudirman kav. 61-62, Jakarta pusat. 9-22 juli 2010. Karya yang disuguhkan lebih dari seratus karya dengan berbagai media, bentuk dan display.

Kwartologi seni kriya Indonesia

Adalah fo(u)r play, kata ini di pilih untuk mempresentasikan beberapa gagasan yang ingin diutarakan kepada public dan audiens. Fo(ur)play dapat kita pilah secara epistimologi menjadi dua suku kata, satu adalah kata –four- dan –play- yang kurang lebih berarti dalam bahasa Indonesia adalah -empat- dan- per-mainan-/ ber-main-/ -main / -mulai-. Dalam artian sederhananya kurang lebih adalah empat permainan – empat mulai / empat yang bermain / yang bila dapat di tafsir secara sederhana yaitu: empat wilayah / empat kota yang sedang melakukan aktivitas –“main”- atau aktifitas yang bermakna lain yaitu - “mulai”-. “Main” dalam artian bukan yang sebenarnya, namun lebih dalam wilayah – wilayah -“main”- ide dan gagasan kreatif yang dipresentasikan dalam wujud karya seni kriya, atau secara singkat dapat di gabungkan menjadi: empat yang sedang -“mulai”-“main”- mempresentasikan ide dan gagasan kreatif mereka dalam wujud karya seni kriya.

Tafsiran kedua adalah kata fo(u)rplay dengan tanpa huruf (u) dalam kata four yang berarti -for- yang bermakna kurang lebih “untuk” . jika tafsiran ini yang dipakai maka kurang lebih bermakna untuk me-mulai- atau untuk –main- .Atau jika digabung secara keseluruhan arti kata forplay tentu bermakna lebih luas lagi, semacam persiapan atau pemanasan sebelum melakukan aktifitas yang dianggap penting. Dan dimungkinkan masih banyak tafsiran lain dari tema ini.

Yang jelas, pameran ini diikuti oleh mahasiswa –mahasiswi dari empat wilayah strategis seni di Indonesia, betapa tidak, kota itu ialah Jakarta, jogja, solo dan bandung. Pertama Jakarta, sebagai ibukota dan pusat pemerintahan Indonesia yang dikota ini jelas secara umum sangat kondisional dengan segala sarana dan prasarana, jaringan kepada public dan audianspun secara terbuka dapat terhubung langsung dengan dunia internasional. Jakarta sebagai magnet ekonomi dan politik tentu menjadikan kota ini menjadi semacam kota impian yang tentu juga memiliki dan melahirkan manusia- mahasiswa yang memiliki kepekaan yang tinggi atas fenomena-fenomena tersebut.
Kedua adalah jogja, sebuah kota kecil yang dijuluki sebagai kota budaya dan ibukota seni rupa Indonesia tentu mempunyai posisi dan potensi yang perlu diperhitungkan, dikota kecil ini wilayah wilayah pergerakan seni rupa terlahir dan terus berjalan hari demi hari dan tentu juga membuat para manusia-mahasiswa “ter-godog” /termasak dalam kawah candra dimuka. Wilayah estetik karya karyanyapun tentu seharusnya mempunyai karakteristik yang dapat di baca dan berbeda.

Ketiga ialah solo, sebuah kota wilayah yang sangat kental dengan nilai – nilai luhur tradisi yang sangat kuat. Sebuah wilayah yang dapat dikatakan sebagai ibukota untuk masyarakat ataupun pelaku seni yang tetap menjunjung tinggi nilai nilai luhur budaya mereka, hal ini tentu mempengaruhi ide dan gagasan para manusia-mahasiswa diwilayah ini dalam menciptakan karya karya mereka dan mempunyai karakteristik yang unik yang jarang dimiliki wilayah lain.

Bandung adalah kota keempat. Bandung sebagai kiblat dan ibukota dalam wilayah fashion di indonesia, dan busana, tentu memiliki kekuatan kekuatan yang tentu sulit di tandingi wilayah lain, karena perkembangan seni di wilayah ini juga sangat pesat.

Pada wilayah kekaryaanpun dari keempat wilayah ini mempunyai karakteeristik yang berbeda-beda dan mempunyai keunikan tersendiri. Wilayah Jakarta yang di suguhkan oleh mahasiswa kriya IKJ, menyuguhkan karya-karya dengan media kayu, keramik, dua media inilah yang banyak dipilih , karya kayu yang ada didominasi dengan karya karya dengan teknik laminasi yang sangat artistic dan unik, ukuran karya memang tidak terlalu besar, ukuranya kecil dan bentuknyapun sederhana, namun dengan penggarapan dengan teknik laminasi yang perfec, hasilnyapun menjadi maksimal dan memiliki visual yang menarik. Objek yang di garap bermacam macam, sebagian besar adalah objek-objek temuan sehari hari, semisal pena, pisau, kotak dan lain lain. Karya kayupun ada yang di-mix- dengan material logam dalam sebuah panel 2 dimensi, membuat kesan materi terasa lebih berat dan kuat. Begitu juga dengan karya keramiknya, stoneware menjadi material yang banyak dipilih serta dengan glasir yang berfariasi, bukan hanya objek yang digarap dengan tujuan karya dalam ruang, karya karamikpun ada yang di presentasikan untuk senipublic. Ide yang dipresentasikan dalam karya mereka luas dan sederhana, namun tidak sedikit dalam gagasan yang intelektual .

Karya karya dari jogja yang disuguhkan oleh mahasiswa kriya dari ISI Yogyakarta memiliki karakteristik yang berbeda, para mahasiswa jogja ini lebih cenderung banyak mengeksplorasi material dan tidak sedikit karya karya yang bermaterial campuran, yang dodominasi campuran materi kayu, logam, dan serat kain. Karya kayu lebih banyak digarap dengan teknik pahat, baik dengan wujud scluptris – objek – naratif, ataupun bentuk imajinatif dan surialis. Terdapat juga karya logam dengan material re-cicle dengan campuran kayu, juga karakteristik karya dengan materi serat kain yang banyak diolah dengan teknik batik yang unik, batik yang disuguhkan tidak seperti teknik batik pada umumnya, teknik batik yang digunakan adalah salah satunya dengan teknik pointilis. Juga terdapat karya tekstil dengan media sutra yang terlihat karakteristik kejawaanya. Karya lainya lagi dengan teknik kolase kain. Ide dan gagasan yang dipresentasikan beragam, namun lebih didominasi karya karya dengan muatan kritik , baik kritik social ataupun kritik dalam wilayah kejiwaan, serta historical.

Karya-karya dari bandung yang di suguhkan oleh mahasiswa mahasiswa kriya ITB beragam, dari material keramik dan serat kain, serta material campuran lain, karya keramik lebih banyak mengolah pewarnaan dalam glasir keramik, bentuknya dipresentasikan dalam panel 2 dimensi, kemudian pada wilayah kain juga sangat kental dan karakteristik fashion sangat erat, desain desain yang modern disuguhkan dalam display manekin yang menyatu dan elegan, juga terdapat karya kain dengan teknik batik yang unik diatas sutra yang terlihat bersih dan komposisi warna yang elegan. Banyak gagasan yang dipresentasikan dengan mengolah wilayah wilayah permainan komposisi warna.

Wilayah solo sangat erat dengan nilai nilai luhur budaya mereka. Begitu juga dengan karya karya mereka, dapat langsung ditebak ketika kita melihat sederetan karya 2 dimensi panel dengan dominasi teknis sungging wayang beber yang sangat khas dengan gradasi warna yang unik. Karya wayang beber mendominasai karya dari mahasiswa dari solo yang diwakili dari ISI Surakarta dan UNS, karya yang lain lagi berupa karya dengan material logam yang juga sangat erat dengan teknis local genius solo, yaitu dengan metal pamor, karya berupa objek keris dengan teknik pamor yang tinggi, uniknya dari karya ini adalah bentuk pamor yang biasa digunakan dalam keris ini di terapkan pada objek samurai, dan juga pada keris yang berakulturasi dengan bentuk pedang. Juga terdapat karya logam panel dengan gambaran wayang dan beberapa bentuk imajinatif. Karya lain juga terdapat media campuran, ide yang dipresentasikan nampaknya banyak pada wilayah wilayah akulturasi budaya dan juga kritik social, karya lain dari mahasiswa UNS juga mempunyai karakteristik yang lain lagi, yakni dengan mengolah wilayah tekstil dengan gaya dan teknik unik pada kain dengan figure tokoh dalam karyanya.

Gagasan mempertemukan karya karya seni kriya dari empat kota ini tentunya sangat menarik, lain halnya dengan temu karya mahasiswa kriya Indonesia yang tergabung dalam kegiatan “surprisse” yang telah tergarap empat kali sejak 2006.
Dalam fo(ur)play ini lebih menajamkan karakteristik dari empat wilayah penting perkembangan seni di Indonesia, bukan berarti wilayah lain tidak penting, namun keempat wilayah ini dipilih untuk menunjukan perkembangan seni kriya yang uptudate. Dikesempatan lain fourplay ini dimungkinkan akan bergerak ke jogja dalam waktu yang belum ditentukan.

green garden improve art (jogjakarta)

Green garden improve art.
Sebuah praktik seni eksperimental

Meneruskan dan merespon kembali apa yang pernah digarap beberapa tahun lalu, yaitu sebuah kegiatan yang didalamnya adalah acara berkarya bersama yakni “green garden” . Berinteraksi satu sam lain bersama berbagi informasi, berbagi pengalaman saling mengisi dan akirnya terbentuk karya-karya eksperimental dengan mengisi ruang ruang terbuka plaza kriya FSR ISI Yogyakarta. Memanfaatkan ruang-ruang terbuka yang memang selama ini terasa kosong tanpa “isi”.

Berbeda dengan karya-karya konvensional yang biasa digeluti oleh teman-teman mahasiswa kriya isi yogyakarta, beberapa mahasiswa mencoba menuangkan gagasan dengan materi karya yang berbeda, yakni dengan materi karya eksperimental. Sekitar 20 karya instalasi eksperimental disuguhkan di ruang-ruang terbuka yang biasanya ruang tersebut tidak berfungsi aktif, dan hanya difungsikan sebagai ruang parkir yang terlihat membosankan. Namun setelah ruang-ruang tersebut digarap dengan diberi karya-karya instalasi , terasa ruang menjadi lebih hidup dan lebih interaktif, walaupun dengan material/bahan bahan temuan yang sederhana namun setelah diolah kreatif, bahan temuan yang biasanya tak berguna itu dapat menjadi karya-karya yang dapat merefresh pemikiran kita dari kejenuhan aktifitas konvensional birokratif.

Ide yang ditawarkanpun sangat beragam dan tanpa batasan yang mengekang keliaran ide, isu mengenai sampah visual digarap dengan cerdas oleh anto sukanto dan teman-teman dengan mengolah kreatif material spanduk yang lilitkan pada sebuah pohon besar serta merespon botol botol pada bagian bawah karyanya, teknik yang digunakan adalah dengan teknik tapestry dengan ukuran tingga skitar 5 meter. Komunitas “kandang sapi” mengolah materi logam/metal dalam karyanya. Sebuah drum dengan sepeda yang menembus tong tersebut , sebuah figure robot dengan badan drum, bertangan potongan- potongan sepeda yang dilas pada sisi depan dan samping dan dengan kepala monitor sebagai symbol kecerdasan otak yang terbatas, tinggi skitar 2.5 meter.

Sebuah tower dengan tinggi skitar 7 meter di display tepat ditengah-tengah gedung tinggi di pusat plaza kriya. Symbol kebutuhan akan pentingnya akses informasi di jaman yang serba cyber dan serba cepat serta serba instant, nampaknya itu sebuah karya bermuatan kritik atas birokratif yang semoga dapat di mengerti oleh birokrasi.

Karya lain dengan bentuk kacamata raksasa pada sisi sebuah gedung yang bertumpuk tumpuk komposisinya, karya kain dengan bentuk sebuah gerbang denga pada kedua sisi atasnya bertulislan exit terpasang pada ruang terbuka, Ada juga karya gantung panel dengan wajah semar dengan teknik pewarnaan sungging pada sebuah sudut plaza terbuka. Nampaknya ide dan gagasan seperti ini yang sarat dengan muatan kritik ini harus terus di jaga keberklangsunganya untuk menjaga originalitas mahasiswa agar tetap menjadi mahasiswa yang berfungsi sebagai agen perubahan dari keglapan menuju cahaya pencerahan, semoga ,,,,,,…. (sumber : waancara dengan panitia)

Senin, 05 April 2010

Festival Seni Kriya Nusantara SURPRISSE IV " Dimensi Kriya Kini"

SURPRISSE IV “Dimensi Kriya Kini”
21-24 April 2010, Denpasar Bali, Indonesia

“Dimensi kriya kini”
Sebuah pembacaan multidimensi atas pencapaian karya mahasiswa kriya nusantara
Oleh ; Prasetiyo yunianto



Festival Seni Kriya Nusantara “SURPRISSE” berangkat dari sebuah semangat kebersamaan yang panjang dan ketersambungan. Sebuah wadah kegiatan yang didalamnya terdapat ruang terbuka sebagai wujud representasi dari berbagai macam pencapaian estetika, baik estetika karya ataupun dalam wujud estetika gagasan dalam ranah mahasiswa seni kriya nusantara. Seiring perjalanan kegiatan “SURPRISSE”, sebagai pameran terbesar yang di garap oleh mahasiswa kriya di Indonesia, kini tengah memasuki garapan yang keempat setelah tiga kesempatan awal yang digelar dua kali di Yogyakarta ( Surprisse 1 “Tarian Jiwa” Biasa art space dan Surprisse II “Front Space” di Ruang Pamer Benteng Vredeburg dan Plaza Kriya FSR ISI Yogyakarta ) serta digelar di Surakarta (Surprisse III “Save the culture” Gallery Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah dan Teater terbuka ISI Surakarta).

Pada kesempatan yang keempat kalinya ini kami mencoba merangkul kembali dua venue untuk menjadi patner presentasi karya karya mahasiswa kriya, dua tempat tersebut adalah Gallery Seni Rupa ISI Denpasar dan Dragon Ball Stage Area Denpasar Bali. Dua tempat tersebut dipilih sebagai ruang terbuka yang siap untuk menjadi jembatan representasi karya kepada audiens dan public. Pameran yang menjadi festival tahunan ini menjadi barometer perkembangan mahasiswa kriya nusantara yang paling up-date, dan dari situ dapat diapresiasi sejauh mana perkembangan dan perjalanan kreativ mahasiswa kriya dari berbagai sudut kultur yang beragam. Hal itu bukanlah isapan jempol semata, bukanlah ambisius yang berlebihan, dari beberapa pameran yang telah digelar selama ini, apresiasi audiens sangat positif, baik apresiasi kultural ataupun apresisasi pengkoleksian karya mahasiswa kriya. Hal itu terbukti dari karya karya kriya yang sould-out (terjual/terkoleksi), namun, traksaksi financial tersebut tentunya bukanlah satu satunya ukuran keberhasilan sebuah kegiatan, ada banyak hal lain yang tak kalah penting , yaitu tentang proses pembelajaran , wacana, pergerakan, baik secara individu ataupun secara komunal.

“Dimensi Kriya Kini” menjadi kristalisasi dari perjalanan pencarian tema besar yang akan digarap dalam pameran ini. Multikulturasi menjadi kacamata pembacaan atas berbagai macam dimensi karya yang ada dalam lingkaran dialektika seni kriya nusantara. Berbagai macam jenis dan dimensi karya keluaran mahasiswa ataupun karya yang dihasilkan oleh praktisi kriya professional dalam dunia seni rupa secara umum ataupun dalam skala yang lebih luas yaitu dunia seni yang tak terbatas oleh dikotomi pengkotak kotakan seni , menjadi bahasan yang intens dan mendalam. Dimensi yang beragam tersebut menjadi pilihan media bagi tiap tiap mahasiswa atau praktisi kriya professional. Zaman telah berubah dan kini dimensinyapun telah mengalami banyak perubahan, dimensi berkembang menjadi tak terbatas ruang, waktu ataupun material. Jika dulunya banyak karya karya 2 dimensi kemudian muncul gagasan karya 3 dimensi sebagai wujud transformasi pemilihan material yang lebih luas atas penafsiran karya seni kriya.

Tidak terbatas pada kedua dimensi itu, perjalan zaman juga telah membawa karya yang lebih luas pemahamanya, tidak hanya karya 2 dmensi dan karya 3 dimensi saja, tetapi kini kita tengah memasuki era zaman yang multi dimensi. Ada dimensi lain dari bagian seni kriya yang belum banyak diekspos kepada audiens, dimensi tersebut adalah karya 1 dimensi dan karya 4 dimensi yang lebih banyak mengolah ide untuk menjaga keberlangsungan kultur seni kriya yang ada di masyarakat. Dimensi tersebut menggarap persoalan persoalan teoritis dan implementasi solusi dari berbagai macam persoalan yang ada di masyarakat dalam ranah seni kriya, yaitu dalam wujud gagasan dan implementasi solusi di masyarakat. Dari hasil pembacaan berbagai macam dimensi tersebut akan dirangkum dalam sebuah konsep penyuguhan karya dalam Festival seni kriya nusantara 2010 Surprisse IV “ Dimensi Kriya Kini”.

Adapun karya yang akan dipamerkan adalah pertama karya-karya seni kriya yang berujud text/ tulisan. Artinya, materialnya adalah tulisan-tulisan karya mahasiswa kriya yang didalamnya terkandung pemikiran-pemikiran dan atau disiplin ilmu-ilmu kriya. Karya ini dapat berupa dokumentasi hasil sebuah penelitian tertentu.Dapat juga berupa tulisan tentang kritik/tinjauan seni kriya. Contoh karyanya adalah laporan penelitian mahasiswa. Karya ini ditujukan untuk mahasiswa yang lebih banyak berprosesi kreativ dengan menulis dari pada berkarya dengan objek visual

Kedua adalah karya -karya berupa karya visual konvensional datar/ 2 ( dua ) dimensi yang dapat di apresiasi dari satu tampak / sudut pandangan. Contoh karyanya adalah: Karya Panel. Ketiga adalah karya objek 3 dimensi karya yang dapat di apresiasi dari segala sudut / tampak pandangan, yaitu muka, samping, belakang, dan atau atas bawah. Contoh karya : objek 3 dimensi visual dengan display diatas pustek ataupun non pustek atau system gantung ataupun dengan system lain.

Keempat adalah karya yang dibuat /diciptakan /dikerjakan /digarap oleh lebih dari satu fihak seniman/ kriyawan. Karya ini adalah bisa berupa dokumentasi sebuah projek seni kriya, Sebuah kegiatan atau projek seni yang melibatkan lebih dari satu pihak, yang didalamnya terdapat praktik penyaluran ilmu, atau transfer ilmu, Karya ini dapat berupa dokumentasi workshop seni kriya, dapat juga berupa dokumentasi kerja pelatihan ke masyarakat, atau juga bisa projek seni individu ke sebuah lembaga lain. dapat juga berupa hasil KKN (Kuliah Kerja Nyata) dibidang pengembangan seni kriya.dan sebagainya. Karya ini ditujukan kepada mahasiswa mahasiswa yang banyak mengabdikan ilmunya kepada masyarakat dari pada ilmu untuk orientasi ekspresi individu.
Kelima adalah karya seni non konvensional. karya ini ditujukan untuk mencari peluang-peluang munculnya teknik-teknik baru, konsep-konsep baru tentang estetika, ruang untuk mahasiswa yang jenuh dengan konvensi estetika yang ada dan dipelajari saat ini . contoh karya ini adalah karya instalasi dengan merespon material yang tak terbatas pada material yang biasa digeluti di dunia akademik.
Keenam adalah karya-karya seni kriya yang orientasi kedepanya adalah pemenuhan kebutuhan pasar, contoh karya ini adalah karya – karya souvenir, t-shirt, marchandise, elemen interior, furniture, craft/kerajinan. Kusus untuk ruang ini diharapkan dapat menjadi ruang presentasi / ruang pamer untuk para mahasiswa yang sedang menjalankan PKM ( Program Kewirausahaan Mahasiswa). Dari survey yang kami lakukan di beberapa institusi seni di Indonesia, terbukti kelompok kewirausahaan yang paling banyak adalah kelompok/ bidang kriya, dana yang terkucur dari pemerintah kepada mereka sangat oksotis, mencapai ratusan juta dan mencapai hampir 1Milliar rupiah. Hal ini menjadi sangat menarik untuk dipresentasikan kepada public dan sekaligus dapat menjadi ruang promosi dari tiap tiap kelompok kewirausahaan mahasiswa kriya

Ketujuh adalah karya karya yang akan disuguhkan diharapkan adalah hasil sebuah kerja seni fashion yang lahir dari semangat zaman atas pembacaan fenomena fenomena tertentu ataupun dari ekspresi individu. Diharapkan dari sini muncul karya karya yang beragam sesuai karakter dari tiap tiap sudut budaya yang ada di Nusantara.

Kemudian ada dua isu yang coba diangkat dalam perhelatan kali ini, isu tersebut adalah pertama Nasionalisme Nusantara, yakni pembacaan atas banyaknya fenomena klaim budaya nusantara oleh oknum oknum birokrasi diluar Indonesia, hal ini menjadi sangat penting karena perlakuan perlakuan terhadap kebudayaan selama ini banyak dilihat sebelah mata, dan tentu hal ini memerlukan solusi yang dapat menguatkan kebudayaan nusantara. Kedua adalah isu tentang Kritisisme Sosial, merupakan pernyataan sikap kritis atas fenomena sosial yang terjadi di sekeliling masyarakat, kritisisme sosial yang dapat meluas subdiskripsinya.

Kamis, 07 Mei 2009

URBAN BATIK

Oleh:Iin kusharyanti


Batik merupakan salah satu karya seni yang mencerminkan budaya bangsa yang adiluhung. Batik merupakan peninggalan sejarah yang mengakar dari budaya bangsa. Secara etimologis, istilah batik berasal dari kata “tik” dari kata “menitik”, yang berati menetes. Menurut terminologinya, adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan canting sebagai alat dan bahan malam (lilin) sebagai penahan masuknya warna. Jadi batik adalah gambaran atau hiasan pada kain, yang dihasilkan melalui proses tutup menggunakan pewarna batik.

Dari zaman ke zaman seni batik senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan yang mencerminkan perubahan kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Batik tidak lepas dari realita yang terus membuat batik berkembang seiring zaman.

Batik yang dahulu hanya terpaku pada aturan-aturan tertentu, kini terus menerus berubah seiring perkembangan teknologi yang berkembang. Baik warna, desain dan motif dan gayanya. Dengan memahami dan mengikuti perkembangan batik dewasa ini dapat menumbuhkan minat bagi generasi muda sekarang. Dan memang sudah selayaknya kita selaku generasi muda ikut dan turut andil membangun dan melestrarikan seni batik agar dapat terus dipertahankan dan di lestarikan generasi yang akan datang.

Sebuah langkah bagaimana mendekatkan seni batik kepada anak muda yang masih banyak beranggapan bahwa batik itu sesuatu yang kuno/ tradisional. Anak muda saat ini sangat menyukai gaya hidup dan budaya modern. Dalam hal ini muncul istilah “seni urban”. Seni urban merupakan seni yang muncul dan berkembang di kehidupan perkotaan yang modern. Hal ini bisa dilihat dari fenomena street art, graffity, dan mural yang telah berkembang pesat di perkotaan.

Seni urban dan seni batik merupakan dua seni yang berbeda latar belakangnya. Seni urban merupakan seni modern, sedangkan seni batik sering di anggap seni yang masih tradisional karena masih mengakar pada budaya bangsa yang adiluhung.

Hal inilah yang mendorong kami, untuk membuat sesuatu yang berbeda untuk menumbuhkan rasa kecintaan batik pada kaum muda. Di sini kami mencoba menggabungkan seni urban dengan seni batik. Walaupun keduanya mempunyai perbedaan yang mencolok. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang sangat menarik dimana kaum muda hanya mengenal dan menggangap batik sesuatu hal yang kuno.

Kami sebagai Mahasiswa Kriya Tekstil Institut Seni Indonesia Yogyakarta ingin mengapresiasi batik dengan semangat seni urban dalam penciptaan karya. Seni batik yang indah dengan kerumitan dan ketelitian dalam proses pembuatannya, membuat para pelakunya terjebak akan kebutuhan pasar. Sedangkan seni urban cenderung bebas dalam mengapresiasikan karyanya, tanpa harus memikirkan nilai komersial. Kreatifitas batik akan bertambah sehingga akan menambah khasanah batik yang ada dan berkembang di masyarakat.

“SURPRISSE “ Transformatif Pergerakan Menuju Ruang Kedua

Oleh: Prasetiyo yunianto
yogyakarta, mei 2008


Awalan
Sebagai budaya yang telah tumbuh dan berkembang dimasyarakat, seni kriya , tentu dalam proses perjalanannya tidak terlepas dari peranan seluruh aspek dan tatanan kehidupan masyarakat . Seiring perjalanan waktu , pada masa sekarang , diera globalisasipun seni kriya tetap mendapatkan pengaruh dari perkembangan zaman. Tuntutan zaman semakin tinggi dan mamaksa kita untuk terus berproses dan terus. berubah dan harus memunculkan pergerakan yang yang dapat membawa perubahan ke tataran yang lebih tinggi. Hal ini adalah salah satu hal yang menjadi latar belakang dalam pembacaan tentang transformasi gerak kriya yang lebih lanjut.

Saat ini , banyak perkembangan kriya yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan publik , orientasi lebih cenderung pada komoditi massal semata, menciptakan karya-karya yang dapat dengan mudah didapatkan serta dapat dengan mudah pula di produksi secara massal. Hal tersebut tidak menjadi soal jika perkembangan pesat di bidang ini diimbangai pula dengan perkembangan kriya yang berorientasi pada ekspresi seni yang juga dapat kita bilang sebagai identitas kriya itu sendiri. Apabila kedua hal tersebut berjalan tidak seimbang, maka akan terjadi ketimpangan di dalam perkembangan seni kriya, Seni kriya sebagai bagian dari cabang seni secara umum juga mempunyai banyak fungsi yang dapat melingkupi beberapa pemikiran. Seni secara umum mempunyai tiga fungsi berbeda. Pertama adalah fungsi seni yang menempatkan ekspresi pribadi menjadi prioritas utama (the Psychologigal {personal} Function of art ) . Fungsi kedua adalah fungsi seni yang menempatkan fungsi sosial menjadi prioritas utama (The social Function of art). Ketiga , fungsi seni yang menempatkan fungsi fisik menjadu prioritas utama.(The Physical Function of art). Apabila satu sisi mendomidnasi sisilain maka jelas akan mempercepat dan memperlambat perkembangan. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh industrialisi dan urbanisasi budaya.

Secara umum, kriya juga sebagai salah satu perangkat budaya yang berperan untuk pemberdayaan masyarakat secara praktis. Hal itu tidak dapat dipungkiri, ini disebabkan oleh keberadaan cabang –cabang seni kriya telah menyatu di masyarakat, darai zaman dahulu sampai saat ini. Selain itu kriya juga sebagai “media” dalam penuangan ide gagasan apapun sebagai wujud pengejowantahan ruh , terlepas dari seni yang dapat berfungsi sebagai apapun. Dalam perkembanganya ternyata dibutuh kan banyak ide dan formula untuk bergerak selangkah ke depan ke ruang muka.

Pergerakan Kriya yang syari’at /hukum dasar yang sedang /telah dilalui
Sebuah perubahan adalah sesuatu yang wajib terjadi , wajib dialani dan harus berjalan tanpa berhenti panjang, karma haltersebut yang hanya akan menyebabkan kemalasan untuk berjalan kembali. Bergerak adalah sebuah pilihan yang membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan tersebut.

Sudut pandang syariat adalah cara pandang saya yang pertama dalam mengolah pikir sepurtar “gerak” kriya . Syariat adalah sebuh kata yang sering dipakai untuk merepresentasikan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan , dan semestinya dilakukan, seperti halnya syariat yang ada dalam konsep agama-agama , syariat itu berujud informatif atau, informasi-informasi yang datang dari yang mahakuasa untuk makhluknya. Namun dalam pelaksanaanya , syariat itu bukan lah sebuah hukum yang wajib , manusia diberi kebebasan untuk menjalankanya ataupun kebebasan untuk tidak melaksanakanya pula, karna memang sifat syariat adalah sebatas informatif. Kedua, sayariat juga merupakan hukum-hukum dasar yang harus dilalui sebelum bergerak ketingkat yang lebih tinggi, merupakan tahapan yang tidak boleh di lewati dan diloncati. Didalam konteks inilah pergerakan (dalam hal ini pergerakan seni kriya,) saya sebut sebagaisesuata yang bernilai syariat ,dalam hali nilah pergerakan kriya terkini akan saya baca dengan teori syari’at.

Dalam hal pergerakan tersebut ada banyak hal yang berpengaruh, sebagai contoh, seorang seniman ,waktu atau jam terbang yang tinggi dan adalah sesuatu yang penting untuk diperhitungkan , dan wak tu yang lama tersebut secara langsung ataupun tidak langsung turut serta mempengaruhi keberanian seorang seniman untuk “bergerak”. Hal itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar ketika seorang seniman tersebut menjadi seorang seniman yang besar dan berani. Waktu yang lama dan hasil tercapai adalah sesuatu yang ideal. Namun dengan kurun waktu yang lama dan hanya membuahkan hasil yang tak seberapa, mungkin harus dipikir ulang apakah perjuangan kita akan kita hentikan sampai disini atau akan memperbarui semangat untuk tetap bergerak. Waktu yang panjang juga telah memberi kesempatan untuk belajar memetik pelajaran yang perlu untuk di petik, dan tidak memetik yang seharusnya tidak dipetik pula sebagai wujud refleksi perjalanan geraknya.

Sebenarnya ukuran waktu diatas tidak layak apabila di berlakukan bagi pergerakan cabang senirupa yang juga sebagai nenek moyang seni rupa Indonesia tersebut. Bila kita berbicara kurun waktu yang panjang, apakah budaya kriya di indonesia adalah sesuatu hal yang bartu?tentu tidak ada orang yang menjawab bahwa kriya indonesia adalah seni rupa yang masih baru . Sejarah pun dapat kita lihat bahwa budaya yang satu ini memang telah memiliki sejarah yang panjang mengakar dan membaur menyatu dalam tatanan budaya masyarakat kita.
Dalam perkembanganya saat ini, pergerakan –pergerakan yang ada , sebenarnya telah dapat kita lihat geliat untuk menuju sebuah tujuan yang hampir sama antara kriyawan satu dengan kriyawan yang lain, yaitu sebuah pergerakan, Hal ini akir –akir ini mulai muncul dan berkembang dan nampaknya mulai memperlihatkan hasil. Perkembangan ide dan pemikiran tentan hal tersebut meskipun telah muncul dari dulu, namun bekum tersatukan, dan hal itu harus terus dipupuk dan disiram agar semangat tersebut akirnya menjadi layu. Salah satu cara memupuknya adalah dengan menyediakan ruang –ruang yang dapat dijadikan sebagai ajang pemerstau ide dan gagasan, Hal tersebut dapat berupa pergerkan bersama, suatu ruang yang dapat mempresentasikan ide kita. Dari pembacaan ide yang tertuang dalam karya tersebut , maka akan dapat dihasilkan sebuah titik temu . diskusi merupakan hal yang juga penting dalam membentuk dialektika kriya yang kondusif.

Poin penting yang ingin saya ungkapkan pada pergerakan kriya yang syariat ini adalah: sebenarnya kita sedang berada dalam ruang syariat itu, aturan-aturan dan tahap dasar ,tahap demi tahap dalam berkriya sedang kita lewati, namun yang utama adalah kita tidak boleh berhenti pada tataran syariat ini, kita harus bergerak dan mencoba untuk memasuki ruang kedua yaitu ruang tarekat yang transformatif.

Pergerakan kriya yang tarekat / Sebuah Pergerakan menuju ruang kedua/ruang transformatif.
Dalam perjalanan spiritual keagamaan ada sebuah konsep yang bernama tarekat , sebuah proses laku tertentu dimana di tataran ini manusia harus mentransformasikan dirinya menuju tataran kedua . Ruag kedua yang dimaksud adalah sebagai kelanjutan ruang syariat . Sebuah tataran dimana akan berjala sesuatu yang sudah dapat dipastikan lebih berat dan membutuhkan pemikiran lebih banyak . Disinilah saya memposisikan sebuah pergerakan kriya pada tataran tarekat.

Pergerakan kriya pada ruang tarekat disini saya maksudkan adalah pergerakan yang lebih dari sekedar penginformasian keberadaan seni kriya ,namun lebih dari itu wujud pemikiran yang intelektual seharusnya lebih banyak muncul, pandangan kritis terhadap wacana yang berkembang pun harus selalu terjaga. Hal tersebut dapat berjalan apabila antara pelaku kriya dapat memposisikan masing-masing pada posisi yang tepat. Intensitas pergerakan juga menjadi hal penting dalam penafsiran dengan teori tarakat ini, Pergerakan yang di maksud disini adalah sebuag aktifitas atau apapun wujudnya, yang dimana hal tersebut dapat menjadi wadah ilmu yang didalamnya terdapat tatanan –tatanan seperti kreatifitas, intelektual, skill, craftmenshift, dan budaya yang akirnya dapat membentuk sebuah diakektika kriya yang cerdas.. Aktifitas pergerakan seperti itulah yang dapat membawa dan menempatkan kita ke ruang kedua ,ruang tarekat yang transformatif tersebut. Sebuah transformasi dari teori ke dunia implementasi nyata .

Transformasi pergerakan adalah sebuah proses dari sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya berhenti disitu pula, namun setidaknya pada tataran ruang kedua ini kematangan pemikiran yana secara alamiah akan membawa ke ruang berikutnya.

Surprisse 2 “Front space” / sebuah dialektika kriya lintas geo-cultur yamg menawarakan sebuah tawaran awal solusi

Dalam wacana senirupa indonesia tentu seni kriya mempunyai posisi yang kuat dan tak dapat di lepaskan. Seni kriya (Craft; craftmenshift = kekriyaan) Indonesia di fahami sebagai bagian dari kesenirupaan yang mewarnai kebudayaan dan condong merupakam wujud dari budaya bendawi yang tersebar luas di berbagai kawasan nusantara. Serangkaian agenda budaya yang digarap mahasiswa kriya ISI Yogyakarta,ISI Surakarta, dan ISI Denpasar , adalah sbagai wujud nyata usaha untuk bergerak.

Tiga Wilayah geografi dan budaya yang berbeda mencoba mensejajarkan tujuan ,Sebuah pergerakan yang mencoba melintas geograpik dan budaya. Perbedaan budaya bukan lah alasan untuk tisdak dapat sejajar, namun justru karna perbedaan tersebut wacana dan pemikiran akan semakin terbangun .Kami mencoba menghimpun yang terserak, ide ,gagasan dan pemikiran yang belum mempunyai wadah yang tepat dan pas.Banyaknya ide serta gagasan untuk membuat sebuah “gerak” harus disikapi secara arif bijaksana dan tepat penangananya, karena bila pemikiran- pemikiran yang beragam tersebut tidak mempunyai wadah yang tepat dan mewadahi maka sia-sialah pula gagasan cerdas tersebut. Wadah itulaah yang kini sedang di garap ditempa dan dibentuk bersama dan bertujuan menjadi kanya sebagai wadah sekaligus pengikat agar menjadi lebih besar dan kokoh

Belajar “bergerak” dari evolusi “gerak” gaya seni kriya yang terus bergerak
Evolusi gaya yang terjadi dalam seni kriya tetap tidak pernah mengalami pemberhentian yang panjang , setiap saat muncul gaya-gaya yang unuk dan ber karakter. Dari gaya klasik ornamentlis rumit, indah dan nyaman di mata hingga gaya pop yang baru-baru inui munculyang cukup unik dan tak cukup waktu sehari dua hari untuk memahaminya. Nampalnya kita harus banyak belajar bergerak dari proses evolusi gaya tersebut yang taka berhenti dan selalu memberikan surprisse (kejutan) yang memang mengejutkan. Masuknya disiplin –disiplin ilmu yang berasal dari barat, adalah hal penting yang akan mempengaruhi gaya dan membentuk pandangan seniman dalam merespon suatu hal dan akirnya terlahir sebuah karya dan juga pandangan dalam mengagas sesuatu fenomena tertentu. Hal itu juga berlaku untuk hukum sebuah pergerakan, pengaruh luar (wacana barat) harus disikapi dengan pemikiran yang cerdas. Namun demikan Hal itu bukan berarti disiplin- disiplin ilmu timur tidak mempengaruhi karya-karya seni kriya . Nilai nilai ketimuran tetap harus menjadi pijakan yang kuat ketia kita akan menerima budaya non timur sebagai identitas yang harus ada. Pengaruh-pengaruh luar adalah sebuah keniscayaan, namun kita dituntut untuk mempuyai kecakapan dalam membaca pengaruh tersebut, itu adalah sebuah strategi dalam menghadapi wacana dunia luar yang pasti juga mempunyai nilai-nilai positif yang perlu kita pahani.

simpulan :
Simpulan dari sedikit pemikiran diatas adalah ; bahwa tataran dasar (syar’iat) seni kriya tersebut secara tidak sadar telah kita jalankan, namun tentu saja tidak boleh hanya berhenti pada tataran tersebut, kita tidak boleh terlalu lama untuk beristirahat agar kita tidak lupa akan tujuan awal . Setelah tatanan dasar kriya telah berjalan ,maka mau tidak mau,harus menapak ke tataran berikutnya yang luas. Transformatif/tarekat adalah jalan yang harus di lalui . Ketika transformasi pergerakan kriya telah dilalui maka tataran kemudian akan berlanjut lagi ke tataran yang lebih tinggi lagi . Surprisse 2 “front space “ adalah satu dari wujud nyata implementasi paparan teori syari’at dan tarekattersebut .terima kasih......

Kegiatan Promosi Kriya Keramik di Daerah Pariwisata Bali Oleh Mahasiswa Jurusan Keramik ISI Denpasar

Oleh: Siti Khodijah/midori


Latar Belakang
Masyarakat Indonesia sudah membuat keramik pada saat jaman prasejarah dimana barang-barang keramik tersebut dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari misalnya sebagai wadah makanan dan minuman bahkan pelengkap sarana upacara peribadahan. Jenis dan bentuknya mengalami fase perubahan dari yang polos pada masa neolitikum, kemudian di jaman megalitikum menambahkan corok baik itu dengan teknik temple maupun toreh, dekorasinya berbentuk geometris,alami atau bentuk stilirisasi yang mengandung unsur keindahan serta terkadang memiliki nilai filosofis pada setiap bentuk garis yang diciptakan. Jenis keramiknya yaitu gerabah (tembikar) atau lebih dikenal dengan terakota. Penemuan- penemuan keramik sejarah manusia Indonesia ini di temukan di beberapa tempat di Indonesia yang di teliti oleh para arkeolog yang menandakan bahwa masyarakat Indonesia sudah menciptakan barang-barang jenis keramik sejak jaman dahulu kala.

Salah satu tempat di Indonesia yang paling banyak terdapat peninggalan jenis keramik terakota adalah pulau Bali. Ditemukan di beberapa daerah seperti pesisiran gilimanuk yang terdapat peninggalan terakota. Hal ini diketahui juga bahwa terakota sangat erat hubungannya dengan agama Hindu yang sampai saat ini mayoritas masyarakat Bali masih menganut ajaran agama Hindu. Tidak di Pungkiri bahwa kerajinan keramik memang sangat dibutuhkan sebagai sarana upacara umat Hindu untuk sembayangan selain sebagai pemenuhan kebutuhan kehidupan sehari-hari mereka.

Pulau Bali juga sangat terkenal akan panorama dan kesejukan alam yang masih alami dan Indah, selain itu pulau ini terkenal sebagai komoditi pariwisata di Indonesia terkenal didunia yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik itu domestic maupun Internasional. Jadi tidak diragukan lagi bahwa di Bali merupakan daerah yang berpotensi untuk mengenalkan pada dunia akan keanekaragaman kebudayaan serta kerajinan (kriya) yang dimiliki bangsa Indonesia.

Salah satu pusat pendidikan yang ada di penjuru Indonesia, dan saranan pendidikan formal Institut Seni Indonesia Denpasar memiliki program studi kriya seni dengan jurusan kriya keramik dan kriya kayu sebagai lembaga pendidikan formal dimana kebudayaan serta pelestarian sumber daya manusia tidak melupakan kegiatan kerajinan yang sudah dimiliki serta sudah menjadi budaya bahwa bangsa Indonesia memiliki kegiatan keahlian untuk mengolah sumber daya alam sebagai kebutuhan sehari-hari serta dapat menjadi sebuah media berkarya sebagai bentuk ekspresi berkesenian. Namun pada kenyataannya sebagian masyarakat berfikiran masih menganggap bahwa jurusan ini tidak memiliki potensi untuk bekal di masa depan, padahal kalau mau belajar serta mendalaminya secara serius kegiatan ini sangat memiliki banyak manfaat baik itu untuk keahlian pribadi dan pelestarian kebudayaan Indonesia.

Rumusan Masalah
  1. Bagaimana peranan kemampuan khususnya mahasiswa kriya seni keramik untuk kemajuan kriya seni keramik?
  2. Kegiatan apa saja yang dapat dilakukan sebagai wadah pengenalan dunia kriya keramik merupakan aset kebudayaan bangsa Indonesia?
Tujuan penulisan ini adalah Meningkatkan peran dan kemampuan daya kreatifitas berkesenian melalui media keramik

Mempromosikan kegiatan kriya yang merupakan sejarah bangsa bahwa Indonesia memiliki potensi yang belum tentu dimiliki bangsa lain.

Manfaat yang hendak dicapai adalah Mengenalkan lebih dekat kegiatan berkesenian (khususnya kriya keramik pada masyarakat luas khususnya wisatawan.

Melestarikan keanekaragaman kriya seni keramik yang merupakan aset kebudayaan Indonesia serta memberikan citra bangsa yang memiliki bermacam kretifitas dan keahlian.

Peranan mahasiswa khususnya jurusan keramik merupakan salah calon SDM pelestari kebudayaan yang memiliki skill (kemampuan) baik itu teori maupun praktek yang diajarkan serta didalami pada perkuliahannya. Hal ini membuat para mahasiswa dipacu untuk lebih kreatif dalam menghasilkan karya-karyanya, dimana selain mengembangkan ide dan jiwa berkeseniannya tapi juga dapat menunjukkan kepribadian serta ciri khas.

Secara tidak langsung sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keahlian membuat tembikar ataupun terakota yang merupakan warisan keahlian budaya bangsa serta berbagai macam disain gambar dekorasi yang telah tercipta agar tidak hilang (punah) ataupun diakui hak cipta oleh bangsa lain secara sepihak yang sekarang marak terjadi. Hal tersebut memacu mahasiswa yang secara intelektual agar tetap mempertahankan serta melindungi dan melestarikannya. Disamping itu merupakan tantangan dimana mahasiswa dapat secara terinspiratif dan kreatif untuk mengembangkan desain ataupun teknik yang telah dimiliki untuk menambah daya kreatifitas dan ketrampilannya.

Disamping kegiatan perkuliahan dan tugas yang sudah menjadi kewajiban mahasiswa kriya seni keramik ISI Denpasar memiliki kegiatan yang dilakukan diluar sebagai wujud pelestarian serta pengenalan kerjinan keramik. Hal ini di dukung tempat dimana Bali merupakan daerah wisatawan yang terkenal.

Kegiatan-kegiatan tersebut dengan mengisi sebuah acara baik itu diadakan sendiri oleh mahasiswa HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) kriya keramik ataupun berkerjasama dengan instansi lain untuk memeriahkan acara. Baik itu berbentuk workshop ataupun pameran-pameran kerajinan keramik.

Kegiatan yang pernah diadakan berlangsung semenjak 2 (dua) tahun ini. Walaupun terhitung terlambat tetapi konsistensi acara demi acara semampu mungkin untuk diisi dengan memunculkan kegiatan yang membuat dunia kriya seni itu lebih dikenalkan pada masyarakat khususnya kriya keramik. Tempat-tempat sebagai sasaran awal program dari hmj meliputi kegiatan yang dilakukan didaerah-daerah wisata seperti yang pernah dilakukan di Ubud. Kegiatan ini mendapat respon yang sangat menarik dan mendapat sambutan serta mengenalakan bahwa bangsa Indonesia memiliki keahlian dalam dunia perkeramikan walaupun bentuknya masih tembikar. Peminat dan pengunjung saat itu kebanyakan wisatawan asing yang tengah berlibur. Partisipasi wisatawan ini tidah hanya dinikmati oleh orang dewasa saja tetapi anak-anak juga lebih antusias karena penyuguhan bentuk yang simple dan penuh warna menarik perhatian mereka. Kegiatan dengan konsep yang sama dilaksanakan di tempat-tempat wisata yang lain, seperti pantai kuta, sanur dan objek dengan konsep alam terbuka lainnya. Kenapa di adakan di alam terbuka, hal ini memberikan bahwa selain bahan baku keramik berupa tanah lempung yang terbuat dari alam para pembuatnya juga masih menikmati keunggulan panorama wisatanya sehingga wisatawan dapat memiliki sebuah kenangan yang berkesan serta hasil yang dibuatnya dapat menjadi barang cinderamata yang mereka buat sendiri.

Sebenarnya masih banyak inovasi yang masih harus di jalankan atau dikerjakan sebagai wadah promosi seperti: Pameran-pameran kriya keramik baik di dalam maupun luar daerah atau negeri dengan berkerjasama dengan institusi yang memiliki keahlian serta spesialisasi yang masih di bawah peng kriya seni. Adanya kegiatan mahasiswa yang mengabdi secara langsung pada masyarakat untuk menciptakan bentuk desain ataupun tenologi yang lebih bermanfaat bagi pengusaha kecil. Diadanya program dari sekolah-sekolah tingkat SD, SLTP, yang memiliki mata pelajaran kriya keramik untuk memberikan informasi bagi siswa-siswinya, karena biasanya para guru pengajar memilih bantuan tenaga pengajar yang memiliki dasar keahlian dan kesenian khususnya kriya keramik.

Banyak sekali program-program yang dapat dilakukan oleh mahasiswa, selain dari bentuk dedikasinya dalam bidang ilmu yang ditekuninya diharapkan setelah lulus mendapat keuntungan dengan banyaknya kolega yang dikenal sehingga dapat bekerjasama untuk mendapat pekerjaan baik berswasta maupun berwirausaha. Sehingga secara otomatis bahwa anggapan sarjana-sarjana seni khususnya kriya dapat berpoensi untuk melakukan usahanya. Dari lulusan jurusan keramik di Bali yang sekarang berwirausaha dan terus memberikan kontribusi keahliannya seperti Anak Agung Ketut Anom,alumnus Jurusan kriya seni keramik ini aktif memproduksi karya pada perusahaannya “cicak keramik”,dimana ciri khas keramiknya memiliki bentuk cicak, selain itu kini ia tengah menjadi salah satu wakil rakyat dalam dunia pemerintahan (DPRD) di Bali. I Wayan Putra Budiade, salah satu alumnus kriya keramik ini juga mempunyai studio keramik “Calu’x Ceramik” selain itu kini ia tengah disibukkan dengan staf pengajar disalah satu sekolah menegah senirupa. Ada banyak lagi lulusan-lulusan jurusan keramik yang memilih untuk berkerja di perusahaan dengan latarbelakang bidang keramik.

Peranan mahasiswa sebagai kaum akdemis yang membidangi dunia kekriyaan keramik diharapkan sudah mampu melakukan kegiatan yeng dapat mengembangkan dan melestarikan keahlian kreatifitas budaya bangsa.

Dengan adanya kegiatan mempromosikan seperti diadakan workshop pada beberapa kegiatan di tempat wisatawan memberikan dampak yang bagus untuk memajukan dunia kekeramikan Indonesia.

RUPA KRIYA KITA

Oleh: Habib Nasihin


Keberagaman karya seni belakangan ini mendapatkan sambutan yang lumayan hangat di masyarakat, apalagi pada karya seni yang bertajuk sosial kemasyarakatan. Demikian juga pada dunia kesenirupaan yang notabenya sangat luas cakupannya pun menjadi sorotan juga, dalam hal ini nuansa kekriyaan dikancah peredaran karya-karya rupa yang sangat ekstrim ternyata mampu memberikan sumbangsih tersendiri bagi eksistensi dunia seni rupa. Suatu karya kriya yang dahulunya merupakan perwujudan tradisi dari masyarakatnya namun sekarang telah di eksplor sedemikian rupa sehingga memunculkan karya-karya baru yang unik dan bernilai etika serta estetika tinggi. Karya rupa dari pekriya-pekriya kita dahulu sangat mengandalkan kepekaan rasa, teknis yang tinggi dalam garapannya, serta memuat kompleksitas dan intensitas yang luar biasa. Hal tersebut ternyata menjadi basic utama dalam penciptaan karya, mereka mendapatkan ide melalui kontemplasi atau perenungan bahkan juga sebuah tapa brata.
Suatu yang dianggap pakem merupakan bentuk rupa tersendiri dalam tindakan pekriya-pekriya untuk mempersembahkan karyanya kepada Sang Raja yang mereka yakini adalah Wakil Tuhan di bumi. Namun pada perkembangan zaman serta pola fikir yang semakin maju, hal tersebut menjadi batu loncatan ketika kriyawan atau seniman kriya akan membuat karya.
Ide yang muncul ketika seorang akan berkarya merupakan pijakan utama dalam menentukan konsep, teknis yang disertai luapan emosianal atau luapan jiwa ternyata turut andil dalam penciptaan karya, maka tidak jarang karya kriya kita sekarang terkesan lebih mengutamakan ekspresi jiwa dari penciptanya daripada mengedepankan pakem-pakem yang ada, meskipun dalam proses berkaryanya mereka tidak mengesampingkan poin-poin penting dalam suatu proses berkarya kriya yakni kompleksitas serta intensitas , karena hal itu telah menjadi basic dalam penciptaan karya kriya pada masa sekarang ini, dan hal tersebut merupakan suatu ciri utama pada sebuah karya kriya. Pada dasarnya pekriya-pekriya kita sekarang ini menmgembangkan basic yang diwariskan dari seniman kriya terdahulu dengan mengkombinasikan luapan jiwa dari dalam sebagai bentuk ekspresi dan memegang kuat konsep sebagi tindak lanjut dari penemuan ide atau gagasan. Serta perpaduan teknis yang bisa dikatakan teknis yang turun temurun dengan teknis yang lebih ekspresif. Hal tersebut terjadi karena dipengaruhi perkembangan zaman dan pola fikir dari senimannya.
Namun pada kenyataan belakangan ini masyarakat luas lebih mengetahui bahwasannya karya kriya merupakan karya-karya yang konsentrasinya lebih cenderung pada produk-produk kerajinan, memang tidak disangkal bahwasannya kriya sendiri merupakan sebuah kerajinan. Akan tetapi manusia dengan segala perkembangannya telah mampu mengkombinasikan basic-basic tersebut dengan pemikiran dan gagasan yang inovatif berikut tanpa meninggalkan basic kerajinan yang ada.

Yang Terserak

Oleh: Soegeng TM
Surakarta – bulan Kartini 2008


Perbincangan musibah lumpur-lapindo belum usai, berlanjut dengan perbincangan ikhwal bencana lain dan juga maraknya gejolak sosial dalam berbagai bentuknya. Bagai rentetan peristiwa bertubi-tubi yang menimpa bangsa ini seakan memaksa untuk lebih merenungkan segala perilaku dan kinerja yang sudah dilakukan.Tata kehidupan masyara-kat yang sedang dilanda dampak multi kultural pun menjadi makin padat diguyur masalah yang seakan tidak akan pernah pupus atau tuntas. Semua kenyataan itu tidak dapat diabaikan tanpa upaya untuk bangkit dari keterpurukan yang sangat mengganggu perkembangan kehidupan dan kreatifitas. Indikasi tersebut dapat saja terjadi, khususnya kitar kawasan bencana atau komunitas yang mengalami dan menimbulkan sikap skeptis atas suasana kalut itu. Apa yang dihadapi seakan sebuah hentakan atas alur kekhidupan.
Di tengah suasana yang sebenarnya sangat tidak diharapkan, denyut budaya masih saja menunjukan daya luar biasa. Kinerja dari para pelaku budaya yang tersebar di berbagai kawasan memperlihatkan keberadaannya yang tetap kukuh pada citranya. Keadaan itu se akan tidak terpengaruh oleh adanya bencana maupun gejolak sosial. Di antara sekian jenis kinerja budaya itu adalah kegiatan kekriaan. Kegiatan budaya dalam menghasilkan neka jenis barang dengan sifat dan kagunan/fungsi sangat beragam. Tidak sedikit lokakria yang tergolong potensial di negeri ini yang menghasilkan ragam barang untuk melengkapi ke-perluan kebendaan. Berbahan dasar alami (kayu, lempung, bebatuan, kulit, tulang dst) dan kemahiran pekria dalam meyasakannya dengan pesona serta keunikan tersendiri.
Budaya Bangsa telah teruji berabad-abad dan meletakan nilai-nilai kemanusiaan berikut segala bentuk kinerja yang mencerminkan keselarasan lahir dan batin. Potensi budaya yang menjadi milik masyarakat ini pun mengisaratkan adanya daya untuk senantiasa menyadari dan mengutamakan kemaslahatan. Hal ini searah dengan slogan The Spirit of Java; serta jabaran dari visi kota Solo yang menyebutkan Berseri Tanpa Korupsi. yangÅSelain itu potensi kawasan lingkungannya pun merupakan bioregion sangat menjanjikan.
Di sisi lain, gejala perubahan atau perkembangan hadir sebagai wujud dari suatu akselerasi komunitas atas hadirnya budaya mendunia.Menjelajahi lingkup seni memang tidak terbatas dari satu sisi yang dapat dianggap paling korelatif. Saat tindakan yang terjadi dinilai kontroversial, kecenderungan berpihak akan menimbulkan ekses kurang menguntungkan, bahkan dapat saja menimbulkan dampak negatif. Namun lewat kinerja intelektual yang bertolak dari kerja-nalar dan meletakan pembenaran, pintu utamanya adalah pendidikan; utamanya pendidikan tentang seni. Kehadiran seni selanjutnya dihadirkan serta dikemas dengan mempertimbangkan adanya keterpaduan makna, fungsi,bahkan hakikat dan manfaat kemanusiaannya.Tanda-tanda ke arah itu bermula dari lingkup satu proses pembelajaran; dari sebuah institusi pendidikan yang terencana.
Kegiatan kesenian pada hakikatnya tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia dan komunitas/lingkungannya, serta budaya yang melatar belakangi keberadaannya.Lingkup dan makna seni selanjutnya tidak dapat diterjemahkan amat sederhana atau singkat-singkat saja pemaparannya. Berbagai jenis karya seni yang muncul menjadi bagian dari budaya terkadang tidak dapat dengan mudah diterima sebagai hasil karya yang memiliki nilai di tengah norma yang berlaku atau bahkan era yang sedang terjadi. Pertumbuhan dan perkembangan sosial serta laju IPTEK merupakan kondisi yang layak mendapat perhatian agar keberadaan nilai-nilai budaya tersebut tidak terkikis atau me mudar. Untuk menegakannya, maka segenap komponen yang menjadi bagian melekat hendaknya mampu bersinergi. Dengan demikian, harapan untuk maju berikut tumbuh-nya suasana tentram-damai-produktif-dan enerjik dapat terwujud.
Pada saat orang berbincang tentang budaya, mau tidak mau akan memaparkan ikhwal nilai dan kosa karya seni berikut rangkaian dari sistem sosialnya. Kenyataan ini dapat berlaku umum, bahkan telah menjadi kebiasaan yang sulit dielakan, disepelekan bahkan ditiadakan dan menjadikannya terbengkalai.Suatu kenyataan; bahwa pandangan, penghargaan atau apresiasi terhadap karya seni; tidak akan muncul begitu saja. Ada beberapa indikator yang dapat menguak keberadaan suatu karya baik yang bersifat temporal atau insidental, mau pun yang bertolak pada suatu disiplin keilmuan. Berbagai pandangan dari para pakar seni mengisyaratkan ada serentetan fenomena yang senantiasa muncul di tengah era multikultural.
Diantara Hegemoni kekinian
Hakikat seni pada dasarnya tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia dan lingkungannya, serta budaya yang melatar belakangi keberadaannya. Lingkup dan makna seni selanjutnya tidak dapat diterjemahkan amat sederhana atau singkat-singkat saja pemaparannya. Berbagai jenis karya seni yang muncul menjadi bagian dari budaya ter-kadang tidak dapat dengan mudah diterima sebagai hasil karya yang memiliki nilai di tengah norma yang berlaku atau bahkan era yang sedang terjadi. Kekriaan yang me-nunjukan kinerja seni dan menyandang citra budaya menampilkan wujud keunikannya, keberadaannya merupakan fakta yang sering dilalaikan keunggulannya. Kehadirannya senantiasa menyandang nilai-nilai yang sarat makna, memuat ranah filosofis dan dapat disebut pula sebagai suatu citra dari budaya & masyarakat pemiliknya. Kekriaan pun merupakan pilar budaya yang kokoh berakar pada tata kehidupan serta menjadi bagian dari bangunan peradaban masyarakat pemiliknya.Berbagai kinerja pekria memperlihat kan keragaman karyarupa yang menyandang kagunan/fungsi beragam serta humanis.
Berbicara tentang karya rupa dengan segala aspeknya, tentu tidak akan cukup hanya menyimak aspek terindera belaka. Ada proses perenungan yang mesti dilakukan agar pemaduan dari alam pikir dan rasa dapat benar-benar membuahkan sesuatu yang bermakna. Pada saat orang berbincang tentangnya, mau tidak mau akan memaparkan ikhwal nilai dan latar belakangnya. Perbincangan paling sering dipaparkan berkisar tentang nilai-karya-pelaku seni; kadang juga dikaitkan dengan tingkatan penghayatnya. Bagaimanapun kehidupan berbudaya masyarakat itu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor; baik berasal dari dalam lingkungannya sendiri (internal) atau pun yang datang dari luar lingkungannya (eksternal). Ini sudah menjadi kenyataan umum; seperti yang dipaparkan oleh Marvin E. Shaw dalam bukunya yang berjudul Theories of Social Psychology, ia lebih lanjut menyebutkan bahwa-sanya ...field theory hold that the analysis must begin with the situation as a whole...(Marvin E.Shaw;`85,115)
Apa yang nampak saat ini adalah makin meruahnya karyarupa dengan watak pem baruan. Semua itu pada dasarnya beranjak dari kekriaan sebagai cikal bakalnya. Masuk-nya senirupa modern dengan segala perilakunya, teradaptasi dengan baik karena adanya bekal awal itu (entry behavior). Karena kesenjangan didalam mengemas informasi; baik yang bersifat konseptual mau pun kontekstual, banyak dugaan dan prasangka yang demikian beragam alasannya. Wacana tentang kekriaan rupanya masih kurang men-dapat porsi dibanding dengan seni pendatang yang demikian kuat dilengkapi deskripsi mau pun analisa kritiknya.
Ketika pemberitaan suasana hidup lebih banyak menggiring rasa haru, was-was, dan kegemasan; pelaku seni mengantarkan berita ikhwal kreasi-seni dan mengundang orang untuk terlibat menngapresiasi. Di sisi lain, lokakria yang tersebar dan masih produktif mengajak kita untuk menyimak lebih dalam tentangnya. Dunia seni saat ini condong berpihak pada kebaruan yang diusung dari seni asing yang bersifat serpihan dari sub-culture luaran. Kebaruan yang dihadirkan condong tidak berpijak pada budaya kita dan sangat mungkin kebaruan itu banyak mengundang pemahaman atas nilai-nilai yang diantarkannya. Sangat mencemaskan manakala kebaruan yang bersifat asupan itu dapat dipandang sebagai pengikis atau pecundang nilai-nilai yang telah ada. Namun sebaliknya pula bila asupan itu dapat dipetik menjadi imbuhan bersifat pembaruan nilai-nilai serta kompetensi pelakunya.
Berangkat dari luapan emosi atas lingkungan hidup dan menginterpretasikannya ke dalam olah seni; dia bergulat dengan bahan alami dari lingkungannya yang pada dasarnya dipahami juga sebagai sumber kehidupan. Ada serangkaian perjalanan kreasi dan juga kontemplasi di dalam dirinya untuk kemudian dinyatakan lewat olah seni. Mungkin tidak tepat untuk dikatakan bahwa sebuah inovasi yang tidak diwartakan itu hanyalah sekedar keisengan saja. Mungkin pula bahwa hadirnya kebaruan yang cenderung melabrak kebiasaan itu cenderung dikatakan sebagai kenakalan belaka. Ya, boleh-boleh saja orang untuk berpendapat walau mengarah pada kritik atau beroposisi; sebuah pernyataan yang lebih menekankan koreksi atas kelemahan dan kekurangan belaka. Sesuatu pandangan dapat saja menjadi masukan atau mungkin kendala untuk lebih maju. Tatkala suasana sosial dengan segala gejolak dan ragam konflik di dalamnya, orang seakan lalai tentang nilai-nilai yang sudah disepakati. Kelalaian itu juga merambah keberadaan kria sebagai aset budaya yang telah teruji zaman dan lekat pada budaya sejak dulu.
Emosi berikut tindakan brutal seakan menjadi sah untuk muncul sebagai wujud dari keinginan sepihak, atau hanya sekedar tindakan sensasi saja. Boleh jadi kenyataan itu merupakan bagian dari kebaruan yang belum menampakan wujud finalnya. Berbagai sisi dari akibat keadaan tersebut, ada pihak-pihak yang terusik alur hidupnya. Ada pula pihak-pihak yang justru menggelembungkan suasana serba galau itu sebagai bagian dari upaya menuju kepentingannya. Bagaimana pun ketimpangan yang terbentuk karena suasana yang demikian itu, tentu banyak yang tidak mengharapkan. Ada semacam dikotomi yang tidak sehat, kemudian merasuk ke dalam benak kreator seni untuk dijadikannya sebagai sumber berkarya. Mungkin sebagian pandangan tentang kria itu lebih menekankan pada jenis barang yang condong fungsional saja. Gambaran lain dapat saja berkisar dari tampilan yang terdapat pada peristiwa ritual; seperti Sekaten, ruwatan atau pun Pasar Cembengan saat memulai proses penggilingan tebu. Kosakria kemudian diidentikan pula dengan ragam barang praktis berupa: perabot rumah tangga, peralatan tani, peranti kerja, tempayan, mainan anak, kendi, gentong, celengan, atau bahkan genting dan bata.

Eksplorasi Cipta Karya
Keberlangsungan berkesenian yang telah teruji zaman dari sekian jenisnya itu, pada dasarnya lebih banyak mengandalkan metoda generik; tata cara / tindakan bersifat temurun, merupakan kebiasaan yang absah. Sama halnya pada saat bertani-bercocok tanam atau bahkan menangkap ikan;para tetua senantiasa menuntun kaum mudanya agar menekuni kemahiran serupa. Seperti kegiatan yang dibentuk lewat nyantrik atau magang dalam suatu komunitas; seperti saat membuat grabah, batik, anyaman, tenun atau pembuatan pernik dan perabotan. Tatacara bernafas peradatan seperti itu masih ber lanjut hingga sekarang; walau beberapa diantaranya kini menunjukan kian berkurang kuantitas nya karena ekses pembaruan dan bergesernya keprofesian pelaku seni.
Karya rupa yang dihasilkan perupa di Nusantara, umumnya menyandang fungsi primer; sebagai barang atau benda fungsional untuk keperluan aktifitas maupun untuk kelengkapan ritualnya. Selain itu ada pula jenis lain yang condong berfungsi sekunder; yakni untuk keperluan pengayaan pengalaman batin, pelengkap keindahan atau sebagai lengkapan saja. Hampir semua karyarupa yang dihasilkan dari tangan terampil itu lebih mengandalkan penggunaan bahan asalan dari kawasan kitarnya. Apa yang disediakan alam seakan melekat dengan cipta-karsa dan hakikat kehidupannya.
Umumnya bahan asalan yang dipergunakan pekria itu lebih banyak meng gunakan bahan alami,seperti: kayu bambu, rotan, rerumputan,akar, tulang,kulit gading, khewan, dedaunan, tempurung, bebatuan, serta lempung. Semua bahan itu didapat dari sumber alam lingkungan, sumber yang sangat mudah didapat dan meruah disekitar mereka. Agaknya, pemanfaatan sumber alam yang telah dilakukan sejak dulu hingga kini masih berlaku, dipertahankan serta dilestarikan. Semua itu nampak terus berjalan dalam suasana peduli lingkungan;artinya bahwa mereka sangat tergantung pada kondisi alam yang menghidupinya. Ada perilaku amat akrab antara manusia dengan alam se-kitarnya, antara sumber alam dengan kearifan memanfaatkannya dan juga antara gejala-gejala alam dengan tata cara bertindak. Dengan matra seperti itu, maka kekriaan sebagai cikal bakal rekayasa kebendaan juga merupakan pilar budaya bangsa.
Akhir-akhir ini nampak beberapa pelaku kria mencoba mencari terobosan dalam menghasilkan karyanya.Mereka mengeksplorasi gagasan & cara garap untuk mendapat- kan kebaruan sebagai satu alternatif melepaskan kejenuhan dan kebiasaan yang kadang dinilainya kurang kompromi dengan suasana zaman. Pekria muda seperti: Widhi, Bagus, Aries BM, Parto, Basuki, dan puluhan kaum muda lainnya memperlihatkan adanya satu daya mengarah pada pembaruan. Bagaimana pun kekriaan itu semestinya mendapatkan kepedulian dari banyak pihak, bila keberadaannya memang laik menjadi kebanggaan dan menopang tegarnya budaya bangsa.
Kekayaan alam Nusantara telah menghamparkan demikian banyak sumber alami yang dapat menjadi bahan untuk mekarya. Setengah abad lalu; eceng gondok, pelepah pisang, cangkang kerang dll; dianggap hama, sampah, bahkan onggokan tanpa nilai. Kini bergeser menjadi sumber karya bernilai ekonomi cukup menjanjikan, diminati, bahkan menjadi komoditi bergengsi. Masih banyak sumber yang bersetara itu, namun menuntut para volunteer atau para inovator untuk mengekplorasikannya agar teruji oleh pasar. Walau demikian, sangat penting pula artinya; bagaimana sumber-sumber alami itu dieksplorasi tanpa merusak lingkungan hidup ini. Dengan demikian jelas pabila ada kesepakatan dari para ekolog budaya yang mendukung suatu pandangan yang di- sebutnya posibilisme lingkungan (environmental possibilism). Pandangan semacam ini nampaknya memperhatikan sekali tentang ciri-ciri dan citra habitat alami bukan hanya sebagai penyandang peran penentu melainkan peran pemberi kemungkinan atau pemberi batas. Ciri yang mereka kemukakan tentang lingkup budaya itu sebenarnya menyangkut suatu keadaan mendasar. Suatu ciri dari habitat alami yang memberi peluang terbuka untuk menempuh arah tertentu sambil melarang menempuh arah lain (David Kaplan; 2000, 105).

Penutup
Kekriaan dengan segala kiprahnya akan lebih banyak memberi arti lagi bila pelaku/para pemrakarsa dengan bijak dapat menangkap kendala dan tantangan yang dihadapi saat ini. Apa yang kini sering menjadi bahan pergunjingan adalah semakin ketatnya persaingan pasar dan perlu adanya solusi dalam mengadopsi teknologi. Saat ini lingkup kekriaan di Indonesia masih berada pada tingkat perlu dikembangkan lebih lanjut. Salah satu bentuk nyata yang dapat kita lihat adalah munculnya suatu pendidikan formal, suatu wahana untuk melangsungkan keberadaan kekriaan yang telah memiliki reputasi menakjubkan. Hadirnya pendidikan formal itu tentu saja tidak sekedar memper siapkan SDM yang handal, namun diharapkan pula dapat memberi kontribusi bagi pengembangan keilmuan berkaitan dengan kelestarian hidup, menunjang keberadaan dan bahkan menyumbang pengembangan kekriaan.
Dari amatan yang demikian itu, keberadaan seni di tengah peradatan atau budaya yang ada di Nusantara itu ; menyiratkan :
▪ Masih kukuhnya pelaku kria dalam menuangkan daya ciptanya dengan tetap berpedoman pada norma konvensi sebagai pangkal mekarya.
▪ Karya rupa yang dihasilkan dan menjadi bagian dari tata kehidupan itu merupa kan ciri produk dari budaya bendawi yang akrab dengan alam lingkungan; laras dengan alam, dan condong mendayagunakannya dalam kehidupan berbudaya.
▪ Munculnya pembaruan; terlebih dengan makin menguatnya kinerja dari kaum terdidik, bukanlah sesuatu yang dikategorikan sebagai pecundang atau pesaing; namun lebih diletakan sebagai mitra pelaku seni/budaya.
▪ Terjadinya kesenjangan; antara pelaku masa lampau dengan generasi kini tentang persepsi matra konsep kosmogoni; mungkin karena kurang-informasi serta amat langkanya tindakan apresiatif.
Demikian paparan singkat saya semoga dapat lebih membuka khasanah seni dari sisi yang dapat memotivasi bangkitnya kreator-kreator seni yang juga toleran terhadap perkembangan namun tetap berpijak pada citra budayanya. Melalui upaya nyata dan menggali sumber budaya dan diharapkan suatu keha diran kosakarya dengan bahasarupa baru akan hadir memperkaya khasanah budaya. Kita coba menyimak satu pepatah Yunani kuno yang menyebutkan: tempora mutantur et nos mutamur in illis; jaman berubah kita pun turut berubah. masa depan adalah masa untuk berjaya.
Mudah-mudahan tampilan aktivitas pekria dalam wujud pameran mampu membuka pandangan objektif terhadap keberadaannya. Sangat terbuka peluang yang mesti di-hadapi agar nilai yang disandang kekriaan itu mampu berbicara banyak di tengah kancah budaya mendunia. Lebih dari itu; profesi kekriaan seyogyanya mendapat tempat sebagai bagian dari kompetensi yang layak bersetara dengan lainnya.