Oleh: Prasetiyo yunianto
yogyakarta, mei 2008
Awalan
Sebagai budaya yang telah tumbuh dan berkembang dimasyarakat, seni kriya , tentu dalam proses perjalanannya tidak terlepas dari peranan seluruh aspek dan tatanan kehidupan masyarakat . Seiring perjalanan waktu , pada masa sekarang , diera globalisasipun seni kriya tetap mendapatkan pengaruh dari perkembangan zaman. Tuntutan zaman semakin tinggi dan mamaksa kita untuk terus berproses dan terus. berubah dan harus memunculkan pergerakan yang yang dapat membawa perubahan ke tataran yang lebih tinggi. Hal ini adalah salah satu hal yang menjadi latar belakang dalam pembacaan tentang transformasi gerak kriya yang lebih lanjut.
Saat ini , banyak perkembangan kriya yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan publik , orientasi lebih cenderung pada komoditi massal semata, menciptakan karya-karya yang dapat dengan mudah didapatkan serta dapat dengan mudah pula di produksi secara massal. Hal tersebut tidak menjadi soal jika perkembangan pesat di bidang ini diimbangai pula dengan perkembangan kriya yang berorientasi pada ekspresi seni yang juga dapat kita bilang sebagai identitas kriya itu sendiri. Apabila kedua hal tersebut berjalan tidak seimbang, maka akan terjadi ketimpangan di dalam perkembangan seni kriya, Seni kriya sebagai bagian dari cabang seni secara umum juga mempunyai banyak fungsi yang dapat melingkupi beberapa pemikiran. Seni secara umum mempunyai tiga fungsi berbeda. Pertama adalah fungsi seni yang menempatkan ekspresi pribadi menjadi prioritas utama (the Psychologigal {personal} Function of art ) . Fungsi kedua adalah fungsi seni yang menempatkan fungsi sosial menjadi prioritas utama (The social Function of art). Ketiga , fungsi seni yang menempatkan fungsi fisik menjadu prioritas utama.(The Physical Function of art). Apabila satu sisi mendomidnasi sisilain maka jelas akan mempercepat dan memperlambat perkembangan. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh industrialisi dan urbanisasi budaya.
Secara umum, kriya juga sebagai salah satu perangkat budaya yang berperan untuk pemberdayaan masyarakat secara praktis. Hal itu tidak dapat dipungkiri, ini disebabkan oleh keberadaan cabang –cabang seni kriya telah menyatu di masyarakat, darai zaman dahulu sampai saat ini. Selain itu kriya juga sebagai “media” dalam penuangan ide gagasan apapun sebagai wujud pengejowantahan ruh , terlepas dari seni yang dapat berfungsi sebagai apapun. Dalam perkembanganya ternyata dibutuh kan banyak ide dan formula untuk bergerak selangkah ke depan ke ruang muka.
Pergerakan Kriya yang syari’at /hukum dasar yang sedang /telah dilalui
Sebuah perubahan adalah sesuatu yang wajib terjadi , wajib dialani dan harus berjalan tanpa berhenti panjang, karma haltersebut yang hanya akan menyebabkan kemalasan untuk berjalan kembali. Bergerak adalah sebuah pilihan yang membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan tersebut.
Sudut pandang syariat adalah cara pandang saya yang pertama dalam mengolah pikir sepurtar “gerak” kriya . Syariat adalah sebuh kata yang sering dipakai untuk merepresentasikan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan , dan semestinya dilakukan, seperti halnya syariat yang ada dalam konsep agama-agama , syariat itu berujud informatif atau, informasi-informasi yang datang dari yang mahakuasa untuk makhluknya. Namun dalam pelaksanaanya , syariat itu bukan lah sebuah hukum yang wajib , manusia diberi kebebasan untuk menjalankanya ataupun kebebasan untuk tidak melaksanakanya pula, karna memang sifat syariat adalah sebatas informatif. Kedua, sayariat juga merupakan hukum-hukum dasar yang harus dilalui sebelum bergerak ketingkat yang lebih tinggi, merupakan tahapan yang tidak boleh di lewati dan diloncati. Didalam konteks inilah pergerakan (dalam hal ini pergerakan seni kriya,) saya sebut sebagaisesuata yang bernilai syariat ,dalam hali nilah pergerakan kriya terkini akan saya baca dengan teori syari’at.
Dalam hal pergerakan tersebut ada banyak hal yang berpengaruh, sebagai contoh, seorang seniman ,waktu atau jam terbang yang tinggi dan adalah sesuatu yang penting untuk diperhitungkan , dan wak tu yang lama tersebut secara langsung ataupun tidak langsung turut serta mempengaruhi keberanian seorang seniman untuk “bergerak”. Hal itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar ketika seorang seniman tersebut menjadi seorang seniman yang besar dan berani. Waktu yang lama dan hasil tercapai adalah sesuatu yang ideal. Namun dengan kurun waktu yang lama dan hanya membuahkan hasil yang tak seberapa, mungkin harus dipikir ulang apakah perjuangan kita akan kita hentikan sampai disini atau akan memperbarui semangat untuk tetap bergerak. Waktu yang panjang juga telah memberi kesempatan untuk belajar memetik pelajaran yang perlu untuk di petik, dan tidak memetik yang seharusnya tidak dipetik pula sebagai wujud refleksi perjalanan geraknya.
Sebenarnya ukuran waktu diatas tidak layak apabila di berlakukan bagi pergerakan cabang senirupa yang juga sebagai nenek moyang seni rupa Indonesia tersebut. Bila kita berbicara kurun waktu yang panjang, apakah budaya kriya di indonesia adalah sesuatu hal yang bartu?tentu tidak ada orang yang menjawab bahwa kriya indonesia adalah seni rupa yang masih baru . Sejarah pun dapat kita lihat bahwa budaya yang satu ini memang telah memiliki sejarah yang panjang mengakar dan membaur menyatu dalam tatanan budaya masyarakat kita.
Dalam perkembanganya saat ini, pergerakan –pergerakan yang ada , sebenarnya telah dapat kita lihat geliat untuk menuju sebuah tujuan yang hampir sama antara kriyawan satu dengan kriyawan yang lain, yaitu sebuah pergerakan, Hal ini akir –akir ini mulai muncul dan berkembang dan nampaknya mulai memperlihatkan hasil. Perkembangan ide dan pemikiran tentan hal tersebut meskipun telah muncul dari dulu, namun bekum tersatukan, dan hal itu harus terus dipupuk dan disiram agar semangat tersebut akirnya menjadi layu. Salah satu cara memupuknya adalah dengan menyediakan ruang –ruang yang dapat dijadikan sebagai ajang pemerstau ide dan gagasan, Hal tersebut dapat berupa pergerkan bersama, suatu ruang yang dapat mempresentasikan ide kita. Dari pembacaan ide yang tertuang dalam karya tersebut , maka akan dapat dihasilkan sebuah titik temu . diskusi merupakan hal yang juga penting dalam membentuk dialektika kriya yang kondusif.
Poin penting yang ingin saya ungkapkan pada pergerakan kriya yang syariat ini adalah: sebenarnya kita sedang berada dalam ruang syariat itu, aturan-aturan dan tahap dasar ,tahap demi tahap dalam berkriya sedang kita lewati, namun yang utama adalah kita tidak boleh berhenti pada tataran syariat ini, kita harus bergerak dan mencoba untuk memasuki ruang kedua yaitu ruang tarekat yang transformatif.
Pergerakan kriya yang tarekat / Sebuah Pergerakan menuju ruang kedua/ruang transformatif.
Dalam perjalanan spiritual keagamaan ada sebuah konsep yang bernama tarekat , sebuah proses laku tertentu dimana di tataran ini manusia harus mentransformasikan dirinya menuju tataran kedua . Ruag kedua yang dimaksud adalah sebagai kelanjutan ruang syariat . Sebuah tataran dimana akan berjala sesuatu yang sudah dapat dipastikan lebih berat dan membutuhkan pemikiran lebih banyak . Disinilah saya memposisikan sebuah pergerakan kriya pada tataran tarekat.
Pergerakan kriya pada ruang tarekat disini saya maksudkan adalah pergerakan yang lebih dari sekedar penginformasian keberadaan seni kriya ,namun lebih dari itu wujud pemikiran yang intelektual seharusnya lebih banyak muncul, pandangan kritis terhadap wacana yang berkembang pun harus selalu terjaga. Hal tersebut dapat berjalan apabila antara pelaku kriya dapat memposisikan masing-masing pada posisi yang tepat. Intensitas pergerakan juga menjadi hal penting dalam penafsiran dengan teori tarakat ini, Pergerakan yang di maksud disini adalah sebuag aktifitas atau apapun wujudnya, yang dimana hal tersebut dapat menjadi wadah ilmu yang didalamnya terdapat tatanan –tatanan seperti kreatifitas, intelektual, skill, craftmenshift, dan budaya yang akirnya dapat membentuk sebuah diakektika kriya yang cerdas.. Aktifitas pergerakan seperti itulah yang dapat membawa dan menempatkan kita ke ruang kedua ,ruang tarekat yang transformatif tersebut. Sebuah transformasi dari teori ke dunia implementasi nyata .
Transformasi pergerakan adalah sebuah proses dari sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya berhenti disitu pula, namun setidaknya pada tataran ruang kedua ini kematangan pemikiran yana secara alamiah akan membawa ke ruang berikutnya.
Surprisse 2 “Front space” / sebuah dialektika kriya lintas geo-cultur yamg menawarakan sebuah tawaran awal solusi
Dalam wacana senirupa indonesia tentu seni kriya mempunyai posisi yang kuat dan tak dapat di lepaskan. Seni kriya (Craft; craftmenshift = kekriyaan) Indonesia di fahami sebagai bagian dari kesenirupaan yang mewarnai kebudayaan dan condong merupakam wujud dari budaya bendawi yang tersebar luas di berbagai kawasan nusantara. Serangkaian agenda budaya yang digarap mahasiswa kriya ISI Yogyakarta,ISI Surakarta, dan ISI Denpasar , adalah sbagai wujud nyata usaha untuk bergerak.
Tiga Wilayah geografi dan budaya yang berbeda mencoba mensejajarkan tujuan ,Sebuah pergerakan yang mencoba melintas geograpik dan budaya. Perbedaan budaya bukan lah alasan untuk tisdak dapat sejajar, namun justru karna perbedaan tersebut wacana dan pemikiran akan semakin terbangun .Kami mencoba menghimpun yang terserak, ide ,gagasan dan pemikiran yang belum mempunyai wadah yang tepat dan pas.Banyaknya ide serta gagasan untuk membuat sebuah “gerak” harus disikapi secara arif bijaksana dan tepat penangananya, karena bila pemikiran- pemikiran yang beragam tersebut tidak mempunyai wadah yang tepat dan mewadahi maka sia-sialah pula gagasan cerdas tersebut. Wadah itulaah yang kini sedang di garap ditempa dan dibentuk bersama dan bertujuan menjadi kanya sebagai wadah sekaligus pengikat agar menjadi lebih besar dan kokoh
Belajar “bergerak” dari evolusi “gerak” gaya seni kriya yang terus bergerak
Evolusi gaya yang terjadi dalam seni kriya tetap tidak pernah mengalami pemberhentian yang panjang , setiap saat muncul gaya-gaya yang unuk dan ber karakter. Dari gaya klasik ornamentlis rumit, indah dan nyaman di mata hingga gaya pop yang baru-baru inui munculyang cukup unik dan tak cukup waktu sehari dua hari untuk memahaminya. Nampalnya kita harus banyak belajar bergerak dari proses evolusi gaya tersebut yang taka berhenti dan selalu memberikan surprisse (kejutan) yang memang mengejutkan. Masuknya disiplin –disiplin ilmu yang berasal dari barat, adalah hal penting yang akan mempengaruhi gaya dan membentuk pandangan seniman dalam merespon suatu hal dan akirnya terlahir sebuah karya dan juga pandangan dalam mengagas sesuatu fenomena tertentu. Hal itu juga berlaku untuk hukum sebuah pergerakan, pengaruh luar (wacana barat) harus disikapi dengan pemikiran yang cerdas. Namun demikan Hal itu bukan berarti disiplin- disiplin ilmu timur tidak mempengaruhi karya-karya seni kriya . Nilai nilai ketimuran tetap harus menjadi pijakan yang kuat ketia kita akan menerima budaya non timur sebagai identitas yang harus ada. Pengaruh-pengaruh luar adalah sebuah keniscayaan, namun kita dituntut untuk mempuyai kecakapan dalam membaca pengaruh tersebut, itu adalah sebuah strategi dalam menghadapi wacana dunia luar yang pasti juga mempunyai nilai-nilai positif yang perlu kita pahani.
simpulan :
Simpulan dari sedikit pemikiran diatas adalah ; bahwa tataran dasar (syar’iat) seni kriya tersebut secara tidak sadar telah kita jalankan, namun tentu saja tidak boleh hanya berhenti pada tataran tersebut, kita tidak boleh terlalu lama untuk beristirahat agar kita tidak lupa akan tujuan awal . Setelah tatanan dasar kriya telah berjalan ,maka mau tidak mau,harus menapak ke tataran berikutnya yang luas. Transformatif/tarekat adalah jalan yang harus di lalui . Ketika transformasi pergerakan kriya telah dilalui maka tataran kemudian akan berlanjut lagi ke tataran yang lebih tinggi lagi . Surprisse 2 “front space “ adalah satu dari wujud nyata implementasi paparan teori syari’at dan tarekattersebut .terima kasih......
yogyakarta, mei 2008
Awalan
Sebagai budaya yang telah tumbuh dan berkembang dimasyarakat, seni kriya , tentu dalam proses perjalanannya tidak terlepas dari peranan seluruh aspek dan tatanan kehidupan masyarakat . Seiring perjalanan waktu , pada masa sekarang , diera globalisasipun seni kriya tetap mendapatkan pengaruh dari perkembangan zaman. Tuntutan zaman semakin tinggi dan mamaksa kita untuk terus berproses dan terus. berubah dan harus memunculkan pergerakan yang yang dapat membawa perubahan ke tataran yang lebih tinggi. Hal ini adalah salah satu hal yang menjadi latar belakang dalam pembacaan tentang transformasi gerak kriya yang lebih lanjut.
Saat ini , banyak perkembangan kriya yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan publik , orientasi lebih cenderung pada komoditi massal semata, menciptakan karya-karya yang dapat dengan mudah didapatkan serta dapat dengan mudah pula di produksi secara massal. Hal tersebut tidak menjadi soal jika perkembangan pesat di bidang ini diimbangai pula dengan perkembangan kriya yang berorientasi pada ekspresi seni yang juga dapat kita bilang sebagai identitas kriya itu sendiri. Apabila kedua hal tersebut berjalan tidak seimbang, maka akan terjadi ketimpangan di dalam perkembangan seni kriya, Seni kriya sebagai bagian dari cabang seni secara umum juga mempunyai banyak fungsi yang dapat melingkupi beberapa pemikiran. Seni secara umum mempunyai tiga fungsi berbeda. Pertama adalah fungsi seni yang menempatkan ekspresi pribadi menjadi prioritas utama (the Psychologigal {personal} Function of art ) . Fungsi kedua adalah fungsi seni yang menempatkan fungsi sosial menjadi prioritas utama (The social Function of art). Ketiga , fungsi seni yang menempatkan fungsi fisik menjadu prioritas utama.(The Physical Function of art). Apabila satu sisi mendomidnasi sisilain maka jelas akan mempercepat dan memperlambat perkembangan. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh industrialisi dan urbanisasi budaya.
Secara umum, kriya juga sebagai salah satu perangkat budaya yang berperan untuk pemberdayaan masyarakat secara praktis. Hal itu tidak dapat dipungkiri, ini disebabkan oleh keberadaan cabang –cabang seni kriya telah menyatu di masyarakat, darai zaman dahulu sampai saat ini. Selain itu kriya juga sebagai “media” dalam penuangan ide gagasan apapun sebagai wujud pengejowantahan ruh , terlepas dari seni yang dapat berfungsi sebagai apapun. Dalam perkembanganya ternyata dibutuh kan banyak ide dan formula untuk bergerak selangkah ke depan ke ruang muka.
Pergerakan Kriya yang syari’at /hukum dasar yang sedang /telah dilalui
Sebuah perubahan adalah sesuatu yang wajib terjadi , wajib dialani dan harus berjalan tanpa berhenti panjang, karma haltersebut yang hanya akan menyebabkan kemalasan untuk berjalan kembali. Bergerak adalah sebuah pilihan yang membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan tersebut.
Sudut pandang syariat adalah cara pandang saya yang pertama dalam mengolah pikir sepurtar “gerak” kriya . Syariat adalah sebuh kata yang sering dipakai untuk merepresentasikan sesuatu hal yang seharusnya dilakukan , dan semestinya dilakukan, seperti halnya syariat yang ada dalam konsep agama-agama , syariat itu berujud informatif atau, informasi-informasi yang datang dari yang mahakuasa untuk makhluknya. Namun dalam pelaksanaanya , syariat itu bukan lah sebuah hukum yang wajib , manusia diberi kebebasan untuk menjalankanya ataupun kebebasan untuk tidak melaksanakanya pula, karna memang sifat syariat adalah sebatas informatif. Kedua, sayariat juga merupakan hukum-hukum dasar yang harus dilalui sebelum bergerak ketingkat yang lebih tinggi, merupakan tahapan yang tidak boleh di lewati dan diloncati. Didalam konteks inilah pergerakan (dalam hal ini pergerakan seni kriya,) saya sebut sebagaisesuata yang bernilai syariat ,dalam hali nilah pergerakan kriya terkini akan saya baca dengan teori syari’at.
Dalam hal pergerakan tersebut ada banyak hal yang berpengaruh, sebagai contoh, seorang seniman ,waktu atau jam terbang yang tinggi dan adalah sesuatu yang penting untuk diperhitungkan , dan wak tu yang lama tersebut secara langsung ataupun tidak langsung turut serta mempengaruhi keberanian seorang seniman untuk “bergerak”. Hal itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar ketika seorang seniman tersebut menjadi seorang seniman yang besar dan berani. Waktu yang lama dan hasil tercapai adalah sesuatu yang ideal. Namun dengan kurun waktu yang lama dan hanya membuahkan hasil yang tak seberapa, mungkin harus dipikir ulang apakah perjuangan kita akan kita hentikan sampai disini atau akan memperbarui semangat untuk tetap bergerak. Waktu yang panjang juga telah memberi kesempatan untuk belajar memetik pelajaran yang perlu untuk di petik, dan tidak memetik yang seharusnya tidak dipetik pula sebagai wujud refleksi perjalanan geraknya.
Sebenarnya ukuran waktu diatas tidak layak apabila di berlakukan bagi pergerakan cabang senirupa yang juga sebagai nenek moyang seni rupa Indonesia tersebut. Bila kita berbicara kurun waktu yang panjang, apakah budaya kriya di indonesia adalah sesuatu hal yang bartu?tentu tidak ada orang yang menjawab bahwa kriya indonesia adalah seni rupa yang masih baru . Sejarah pun dapat kita lihat bahwa budaya yang satu ini memang telah memiliki sejarah yang panjang mengakar dan membaur menyatu dalam tatanan budaya masyarakat kita.
Dalam perkembanganya saat ini, pergerakan –pergerakan yang ada , sebenarnya telah dapat kita lihat geliat untuk menuju sebuah tujuan yang hampir sama antara kriyawan satu dengan kriyawan yang lain, yaitu sebuah pergerakan, Hal ini akir –akir ini mulai muncul dan berkembang dan nampaknya mulai memperlihatkan hasil. Perkembangan ide dan pemikiran tentan hal tersebut meskipun telah muncul dari dulu, namun bekum tersatukan, dan hal itu harus terus dipupuk dan disiram agar semangat tersebut akirnya menjadi layu. Salah satu cara memupuknya adalah dengan menyediakan ruang –ruang yang dapat dijadikan sebagai ajang pemerstau ide dan gagasan, Hal tersebut dapat berupa pergerkan bersama, suatu ruang yang dapat mempresentasikan ide kita. Dari pembacaan ide yang tertuang dalam karya tersebut , maka akan dapat dihasilkan sebuah titik temu . diskusi merupakan hal yang juga penting dalam membentuk dialektika kriya yang kondusif.
Poin penting yang ingin saya ungkapkan pada pergerakan kriya yang syariat ini adalah: sebenarnya kita sedang berada dalam ruang syariat itu, aturan-aturan dan tahap dasar ,tahap demi tahap dalam berkriya sedang kita lewati, namun yang utama adalah kita tidak boleh berhenti pada tataran syariat ini, kita harus bergerak dan mencoba untuk memasuki ruang kedua yaitu ruang tarekat yang transformatif.
Pergerakan kriya yang tarekat / Sebuah Pergerakan menuju ruang kedua/ruang transformatif.
Dalam perjalanan spiritual keagamaan ada sebuah konsep yang bernama tarekat , sebuah proses laku tertentu dimana di tataran ini manusia harus mentransformasikan dirinya menuju tataran kedua . Ruag kedua yang dimaksud adalah sebagai kelanjutan ruang syariat . Sebuah tataran dimana akan berjala sesuatu yang sudah dapat dipastikan lebih berat dan membutuhkan pemikiran lebih banyak . Disinilah saya memposisikan sebuah pergerakan kriya pada tataran tarekat.
Pergerakan kriya pada ruang tarekat disini saya maksudkan adalah pergerakan yang lebih dari sekedar penginformasian keberadaan seni kriya ,namun lebih dari itu wujud pemikiran yang intelektual seharusnya lebih banyak muncul, pandangan kritis terhadap wacana yang berkembang pun harus selalu terjaga. Hal tersebut dapat berjalan apabila antara pelaku kriya dapat memposisikan masing-masing pada posisi yang tepat. Intensitas pergerakan juga menjadi hal penting dalam penafsiran dengan teori tarakat ini, Pergerakan yang di maksud disini adalah sebuag aktifitas atau apapun wujudnya, yang dimana hal tersebut dapat menjadi wadah ilmu yang didalamnya terdapat tatanan –tatanan seperti kreatifitas, intelektual, skill, craftmenshift, dan budaya yang akirnya dapat membentuk sebuah diakektika kriya yang cerdas.. Aktifitas pergerakan seperti itulah yang dapat membawa dan menempatkan kita ke ruang kedua ,ruang tarekat yang transformatif tersebut. Sebuah transformasi dari teori ke dunia implementasi nyata .
Transformasi pergerakan adalah sebuah proses dari sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya berhenti disitu pula, namun setidaknya pada tataran ruang kedua ini kematangan pemikiran yana secara alamiah akan membawa ke ruang berikutnya.
Surprisse 2 “Front space” / sebuah dialektika kriya lintas geo-cultur yamg menawarakan sebuah tawaran awal solusi
Dalam wacana senirupa indonesia tentu seni kriya mempunyai posisi yang kuat dan tak dapat di lepaskan. Seni kriya (Craft; craftmenshift = kekriyaan) Indonesia di fahami sebagai bagian dari kesenirupaan yang mewarnai kebudayaan dan condong merupakam wujud dari budaya bendawi yang tersebar luas di berbagai kawasan nusantara. Serangkaian agenda budaya yang digarap mahasiswa kriya ISI Yogyakarta,ISI Surakarta, dan ISI Denpasar , adalah sbagai wujud nyata usaha untuk bergerak.
Tiga Wilayah geografi dan budaya yang berbeda mencoba mensejajarkan tujuan ,Sebuah pergerakan yang mencoba melintas geograpik dan budaya. Perbedaan budaya bukan lah alasan untuk tisdak dapat sejajar, namun justru karna perbedaan tersebut wacana dan pemikiran akan semakin terbangun .Kami mencoba menghimpun yang terserak, ide ,gagasan dan pemikiran yang belum mempunyai wadah yang tepat dan pas.Banyaknya ide serta gagasan untuk membuat sebuah “gerak” harus disikapi secara arif bijaksana dan tepat penangananya, karena bila pemikiran- pemikiran yang beragam tersebut tidak mempunyai wadah yang tepat dan mewadahi maka sia-sialah pula gagasan cerdas tersebut. Wadah itulaah yang kini sedang di garap ditempa dan dibentuk bersama dan bertujuan menjadi kanya sebagai wadah sekaligus pengikat agar menjadi lebih besar dan kokoh
Belajar “bergerak” dari evolusi “gerak” gaya seni kriya yang terus bergerak
Evolusi gaya yang terjadi dalam seni kriya tetap tidak pernah mengalami pemberhentian yang panjang , setiap saat muncul gaya-gaya yang unuk dan ber karakter. Dari gaya klasik ornamentlis rumit, indah dan nyaman di mata hingga gaya pop yang baru-baru inui munculyang cukup unik dan tak cukup waktu sehari dua hari untuk memahaminya. Nampalnya kita harus banyak belajar bergerak dari proses evolusi gaya tersebut yang taka berhenti dan selalu memberikan surprisse (kejutan) yang memang mengejutkan. Masuknya disiplin –disiplin ilmu yang berasal dari barat, adalah hal penting yang akan mempengaruhi gaya dan membentuk pandangan seniman dalam merespon suatu hal dan akirnya terlahir sebuah karya dan juga pandangan dalam mengagas sesuatu fenomena tertentu. Hal itu juga berlaku untuk hukum sebuah pergerakan, pengaruh luar (wacana barat) harus disikapi dengan pemikiran yang cerdas. Namun demikan Hal itu bukan berarti disiplin- disiplin ilmu timur tidak mempengaruhi karya-karya seni kriya . Nilai nilai ketimuran tetap harus menjadi pijakan yang kuat ketia kita akan menerima budaya non timur sebagai identitas yang harus ada. Pengaruh-pengaruh luar adalah sebuah keniscayaan, namun kita dituntut untuk mempuyai kecakapan dalam membaca pengaruh tersebut, itu adalah sebuah strategi dalam menghadapi wacana dunia luar yang pasti juga mempunyai nilai-nilai positif yang perlu kita pahani.
simpulan :
Simpulan dari sedikit pemikiran diatas adalah ; bahwa tataran dasar (syar’iat) seni kriya tersebut secara tidak sadar telah kita jalankan, namun tentu saja tidak boleh hanya berhenti pada tataran tersebut, kita tidak boleh terlalu lama untuk beristirahat agar kita tidak lupa akan tujuan awal . Setelah tatanan dasar kriya telah berjalan ,maka mau tidak mau,harus menapak ke tataran berikutnya yang luas. Transformatif/tarekat adalah jalan yang harus di lalui . Ketika transformasi pergerakan kriya telah dilalui maka tataran kemudian akan berlanjut lagi ke tataran yang lebih tinggi lagi . Surprisse 2 “front space “ adalah satu dari wujud nyata implementasi paparan teori syari’at dan tarekattersebut .terima kasih......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar