Oleh: Sri krisnanto,S.Sn
Mei 2008
Beberapa event pameran seni rupa yang terjadi dewasa ini menegaskan kembali bahwa, fenomena pameran menjadi ajang yang menampilkan gelaran karya “yang maha” artinya kontestasi karya-karya yang sudah masak, matang, jadi, dikemas menjadi pesta pergelaran yang hingar-bingar. Karya-karya tersebut mengacu pada trend yang diminati pasar dengan ditopang oleh pilar kapital, media, infrastruktur dan suprastruktur seni rupa yang mapan. Mata rantai jagat seni rupa, kemudian dilihat sebagai sebuah arena untuk menegaskan cita rasa (taste) yang berharga mahal dengan percumbuan manis antara kurator, seniman, galeri, dan kolektor. Jagat itulah yang kemudian oleh banyak pihak dianggap sebagai rejim kebenaran yang memang sudah seharusnya seperti itu dan sah-sah saja. Itulah realitas seni rupa hari ini, semua berlomba menemukan gaya, aliran, ruang, dan strategi pemasaran yang tepat untuk memperoleh justifikasi estetik dari sebuah karya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan kecenderungan tersebut, karena semua pada akhirnya memang berpulang pada pilihan personal dalam berproses. Namun, yang menjadi kontra-produktif adalah ketika semua memang harus mengacu ke dalam medan ideologis tersebut. Padahal masih terdapat kemungkinan-kemungkinan lain yang juga berperan dalam perkembangan seni, terutama dalam kaitannya dengan energi dan spirit untuk melakukan penjelajahan-penjelajahan estetik melalui karya-karya yang selama ini dianggap liyan.
Yang liyan belum tentu kurang bermutu atau kurang kredibel dalam menghasilkan karya-karya bermutu. Keengganan beberapa pihak yang bergulat dalam jagat seni rupa untuk merangkul mereka dengan bermacam alasan, merupakan salah satu faktor yang menciptakan kurang dilihatnya dan kurang diperhatikannya mereka dalam perkembangan seni rupa hingga hari ini. Salah satu dari mereka adalah para kriyawan muda yang selama ini selalu dan sedang terus “berproses” mencari formulasi melalui pergulatan kreatifnya di studio kriya ataupun di ruang-ruang kreatif lainnya, mencari temuan teknik dan gagasan baru dalam merumuskan konsep penciptaan kriya baru. Mereka adalah anak muda kreatif dan sangat mungkin di masa mendatang akan menjadi kriyawan yang karyanya menghiasi dinamika jagat kriya.
Oleh karena itu, keberanian untuk menggelar karya di depan khalayak menjadi menarik dan penting untuk diapresiasi. Bukan semata-mata dalam rangka mencari popularitas ataupun harga yang layak bagi sebuah karya yang selama ini banyak di-under estimate. Yang lebih penting dari itu semua adalah keberanian untuk menjaga spirit dan energi di tengah-tengah pergulatan seni hari ini. Sebuah karya kriya, memang tidak harus disandingkan sejajar dengan karya seni rupa lainnya, karena memang memiliki kualitas estetik yang jelas berbeda. Keberanian untuk menjaga dan meyakini estetika kriya merupakan bentuk tanggung jawab dari mereka yang menyadari potensi kreatif di balik semua keterbatasan yang ada. Tampilnya karya mereka di depan publik, di sisi lain, juga bisa dibaca sebagai bagian dari tanggung jawab sosial kriyawan muda selama menjalani masa pendidikan dan pembelajarannya di Institusi Pendidikan Seni. Untuk itu jejak pameran ini menjadi penting untuk ditengarai, sebagai penanda aktifitas penciptaan generasi kriya masa kini yang sangat mungkin menentukan formasi dan bentuk kriya di masa mendatang.
Kehadiran pameran ini merupakan sebuah realisasi dari keberanian untuk menunjukkan bahwa para kriyawan muda sebenarnya mempunyai potensi besar, meskipun harus diawali dengan kerja-kerja yang mungkin dianggap sepele oleh mereka yang biasa menggelar pameran berukuran besar dan wah. Kerja-kerja dilakukan oleh para aktor di balik pameran ini adalah kesadaran untuk bergerak dan tidak hanya terkungkung dalam menara gading pendidikan seni sembari melakukan langkah-langkah konkrit untuk mempraksiskan kesadaran tersebut. Prasetyo, Bayu, Yani, Rudi, Anton… (mahasiswa kriya ISI Yogyakarta), Azis, Sigit, Sidiq,…(mahasiswa Kriya ISI Solo), Kus, Edi, Hendra, Dadang…. (mahasiswa ISI Bali) mampu melakukan gerakan komunikasi aktif-intens (melalui institusi HMJ Kriya) untuk menyikapi dinamika wacana kriya yang sedang berkembang, sehingga berhasil menyuguhkan pameran bertajuk Front Space.
Ruang depan merupakan metafor yang menarik untuk dicermati dalam beberapa perspektif. Pertama, ruang depan adalah sebuah keinginan untuk bergerak dalam memperlihatkan karya-karya yang sudah seharusnya dan semestinya juga dipertimbangkan dalam sejarah dan perkembangan seni di masa kini dan masa mendatang, bukan sekedar dianggap dan diposisikan di ruang belakang yang tentu tidak akan banyak dilihat dan diperhatikan. Kedua, karya-karya kriya tidak harus dibaca sebagai produk estetik kualitas kedua karena ada kualitas-kualitas yang sebenarnya menjadi karakteristik dan mampu menunjukkan keunggulan, meskipun tidak harus dalam hal harga. Ketiga, ruang depan bagi kriyawan-kriyawan muda merupakan medan kontestasi untuk memberi pencerahan bagi perkembangan kriya dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan secara implisit kepada mereka yang merasa berada dalam lingkaran kriya: apa yang sudah dilakukan dalam memikirkan bermacam kondisi yang selama ini mengungkung perkembangan kriya? Pertanyaan tersebut perlu diperdebatkan di ruang depan karena dari situlah akan bisa dibaca keseriusan dan keyakinan para kriyawan untuk terus meyakini dan membela kekriyaannya, bukan malah lari terbirit-birit ketika dihadapkan pada permasalahan besar kriya di hari ini. Dengan kesadaran untuk terus mewacanakan dan mengkritisi permasalahan tersebut, sejarah kriya akan terus bergerak secara dinamis ke ruang depan, dan bukannya kembali ke ruang belakang yang diwarnai keminderan atau ketergantungan pada induk seni yang lebih besar.
Paling tidak, pameran ini, telah memberikan salah satu jawaban bagi permasalahan tersebut: kerjasama, kekritisan, keseriusan, dan keyakinan dari para kriyawan sendirilah yang akan mampu membuka mata dunia, bahwa kriya bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dikembangkan. Karya-karya yang hadir dalam pameran ini juga mengimplikasikan kemampuan baca dalam memahami perkembangan seni kontemporer yang banyak ditandai dengan beragam teknik, gagasan, maupun media untuk berkarya. Para kriyawan dalam pameran ini, seperti bermain-main dalam ruang ketiga—meminjam istilah Bhabha—dengan memainkan mimikri dan hibriditas dengan gaya dan teknik lain, tanpa harus melupakan kepentingan kriya itu sendiri. Sikap di antara ini menjadi penting untuk mengkerangkai semangat bergerak yang tidak hanya berada dalam kekakuan sebuah disiplin, tetapi mampu menjangkau kemungkinan-kemungkinan estetik baru yang tentunya akan semakin menghadirkan beragam warna bagi perkembangan kriya itu sendiri.
Yang juga patut diapresiasi adalah kesadaran mereka sebagai kriyawan muda yang sedang bergerak dan menjadi untuk merancang aktivitas pameran kriya secara berkala pada setiap tahun dengan tema dan tempat yang selalu berganti, melampaui ragam wacana dan lokasi geografis. Pameran ini merupakan kelanjutan dari pameran kriya “Surprise One” di Galleri Biasa Yogyakarta. Diharapkan pada tahun depan lokasi pameran akan berpindah ke tempat lainl, sebagai salah satu bentuk semangat untuk terus bergerak. Lebih dari itu, keterlibatan dan kesadaran mereka untuk menggelar pameran kriya pada tiga Institusi Kriya ini dapat dilihat sebagai ajang dialog untuk terus menjalin dan mengembangkan komunikasi kreatif-dinamis demi pengembangan wacana dan praktik kriya yang diharapkan mampu membumi ke ranah publiknya, sebagai makna filosofis kriya yang memang dilahirkan dari kreativitas rakyat, meskipun sudah diramu dengan beragam kemungkinan estetik yang lebih kontemporer. Akhirnya, Benteng Vredeberg Yogya akan menjadi saksi dari sebuah gerakan para kriyawan muda untuk terus menggerakkan kesadaran dan keyakinan akan kekriyaan yang sudah semestinya terus dimunculkan, bukan di ruang belakang, tetapi di ruang depan sehingga biarkanlah publik menikmati, menilai, mengumpat, mengejek atau bahkan tertegun demi melihat sebuah usaha serius untuk bergerak. Itu semua akan semakin memperkaya wacana dan inspirasi kreatif bagi sebuah penciptaan. Selamat berpameran dan selamat bergerak demi sebuah kemajuan, bukan kemunduran yang membelenggu…
Mei 2008
Beberapa event pameran seni rupa yang terjadi dewasa ini menegaskan kembali bahwa, fenomena pameran menjadi ajang yang menampilkan gelaran karya “yang maha” artinya kontestasi karya-karya yang sudah masak, matang, jadi, dikemas menjadi pesta pergelaran yang hingar-bingar. Karya-karya tersebut mengacu pada trend yang diminati pasar dengan ditopang oleh pilar kapital, media, infrastruktur dan suprastruktur seni rupa yang mapan. Mata rantai jagat seni rupa, kemudian dilihat sebagai sebuah arena untuk menegaskan cita rasa (taste) yang berharga mahal dengan percumbuan manis antara kurator, seniman, galeri, dan kolektor. Jagat itulah yang kemudian oleh banyak pihak dianggap sebagai rejim kebenaran yang memang sudah seharusnya seperti itu dan sah-sah saja. Itulah realitas seni rupa hari ini, semua berlomba menemukan gaya, aliran, ruang, dan strategi pemasaran yang tepat untuk memperoleh justifikasi estetik dari sebuah karya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan kecenderungan tersebut, karena semua pada akhirnya memang berpulang pada pilihan personal dalam berproses. Namun, yang menjadi kontra-produktif adalah ketika semua memang harus mengacu ke dalam medan ideologis tersebut. Padahal masih terdapat kemungkinan-kemungkinan lain yang juga berperan dalam perkembangan seni, terutama dalam kaitannya dengan energi dan spirit untuk melakukan penjelajahan-penjelajahan estetik melalui karya-karya yang selama ini dianggap liyan.
Yang liyan belum tentu kurang bermutu atau kurang kredibel dalam menghasilkan karya-karya bermutu. Keengganan beberapa pihak yang bergulat dalam jagat seni rupa untuk merangkul mereka dengan bermacam alasan, merupakan salah satu faktor yang menciptakan kurang dilihatnya dan kurang diperhatikannya mereka dalam perkembangan seni rupa hingga hari ini. Salah satu dari mereka adalah para kriyawan muda yang selama ini selalu dan sedang terus “berproses” mencari formulasi melalui pergulatan kreatifnya di studio kriya ataupun di ruang-ruang kreatif lainnya, mencari temuan teknik dan gagasan baru dalam merumuskan konsep penciptaan kriya baru. Mereka adalah anak muda kreatif dan sangat mungkin di masa mendatang akan menjadi kriyawan yang karyanya menghiasi dinamika jagat kriya.
Oleh karena itu, keberanian untuk menggelar karya di depan khalayak menjadi menarik dan penting untuk diapresiasi. Bukan semata-mata dalam rangka mencari popularitas ataupun harga yang layak bagi sebuah karya yang selama ini banyak di-under estimate. Yang lebih penting dari itu semua adalah keberanian untuk menjaga spirit dan energi di tengah-tengah pergulatan seni hari ini. Sebuah karya kriya, memang tidak harus disandingkan sejajar dengan karya seni rupa lainnya, karena memang memiliki kualitas estetik yang jelas berbeda. Keberanian untuk menjaga dan meyakini estetika kriya merupakan bentuk tanggung jawab dari mereka yang menyadari potensi kreatif di balik semua keterbatasan yang ada. Tampilnya karya mereka di depan publik, di sisi lain, juga bisa dibaca sebagai bagian dari tanggung jawab sosial kriyawan muda selama menjalani masa pendidikan dan pembelajarannya di Institusi Pendidikan Seni. Untuk itu jejak pameran ini menjadi penting untuk ditengarai, sebagai penanda aktifitas penciptaan generasi kriya masa kini yang sangat mungkin menentukan formasi dan bentuk kriya di masa mendatang.
Kehadiran pameran ini merupakan sebuah realisasi dari keberanian untuk menunjukkan bahwa para kriyawan muda sebenarnya mempunyai potensi besar, meskipun harus diawali dengan kerja-kerja yang mungkin dianggap sepele oleh mereka yang biasa menggelar pameran berukuran besar dan wah. Kerja-kerja dilakukan oleh para aktor di balik pameran ini adalah kesadaran untuk bergerak dan tidak hanya terkungkung dalam menara gading pendidikan seni sembari melakukan langkah-langkah konkrit untuk mempraksiskan kesadaran tersebut. Prasetyo, Bayu, Yani, Rudi, Anton… (mahasiswa kriya ISI Yogyakarta), Azis, Sigit, Sidiq,…(mahasiswa Kriya ISI Solo), Kus, Edi, Hendra, Dadang…. (mahasiswa ISI Bali) mampu melakukan gerakan komunikasi aktif-intens (melalui institusi HMJ Kriya) untuk menyikapi dinamika wacana kriya yang sedang berkembang, sehingga berhasil menyuguhkan pameran bertajuk Front Space.
Ruang depan merupakan metafor yang menarik untuk dicermati dalam beberapa perspektif. Pertama, ruang depan adalah sebuah keinginan untuk bergerak dalam memperlihatkan karya-karya yang sudah seharusnya dan semestinya juga dipertimbangkan dalam sejarah dan perkembangan seni di masa kini dan masa mendatang, bukan sekedar dianggap dan diposisikan di ruang belakang yang tentu tidak akan banyak dilihat dan diperhatikan. Kedua, karya-karya kriya tidak harus dibaca sebagai produk estetik kualitas kedua karena ada kualitas-kualitas yang sebenarnya menjadi karakteristik dan mampu menunjukkan keunggulan, meskipun tidak harus dalam hal harga. Ketiga, ruang depan bagi kriyawan-kriyawan muda merupakan medan kontestasi untuk memberi pencerahan bagi perkembangan kriya dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan secara implisit kepada mereka yang merasa berada dalam lingkaran kriya: apa yang sudah dilakukan dalam memikirkan bermacam kondisi yang selama ini mengungkung perkembangan kriya? Pertanyaan tersebut perlu diperdebatkan di ruang depan karena dari situlah akan bisa dibaca keseriusan dan keyakinan para kriyawan untuk terus meyakini dan membela kekriyaannya, bukan malah lari terbirit-birit ketika dihadapkan pada permasalahan besar kriya di hari ini. Dengan kesadaran untuk terus mewacanakan dan mengkritisi permasalahan tersebut, sejarah kriya akan terus bergerak secara dinamis ke ruang depan, dan bukannya kembali ke ruang belakang yang diwarnai keminderan atau ketergantungan pada induk seni yang lebih besar.
Paling tidak, pameran ini, telah memberikan salah satu jawaban bagi permasalahan tersebut: kerjasama, kekritisan, keseriusan, dan keyakinan dari para kriyawan sendirilah yang akan mampu membuka mata dunia, bahwa kriya bisa menjadi sesuatu yang menarik untuk terus dikembangkan. Karya-karya yang hadir dalam pameran ini juga mengimplikasikan kemampuan baca dalam memahami perkembangan seni kontemporer yang banyak ditandai dengan beragam teknik, gagasan, maupun media untuk berkarya. Para kriyawan dalam pameran ini, seperti bermain-main dalam ruang ketiga—meminjam istilah Bhabha—dengan memainkan mimikri dan hibriditas dengan gaya dan teknik lain, tanpa harus melupakan kepentingan kriya itu sendiri. Sikap di antara ini menjadi penting untuk mengkerangkai semangat bergerak yang tidak hanya berada dalam kekakuan sebuah disiplin, tetapi mampu menjangkau kemungkinan-kemungkinan estetik baru yang tentunya akan semakin menghadirkan beragam warna bagi perkembangan kriya itu sendiri.
Yang juga patut diapresiasi adalah kesadaran mereka sebagai kriyawan muda yang sedang bergerak dan menjadi untuk merancang aktivitas pameran kriya secara berkala pada setiap tahun dengan tema dan tempat yang selalu berganti, melampaui ragam wacana dan lokasi geografis. Pameran ini merupakan kelanjutan dari pameran kriya “Surprise One” di Galleri Biasa Yogyakarta. Diharapkan pada tahun depan lokasi pameran akan berpindah ke tempat lainl, sebagai salah satu bentuk semangat untuk terus bergerak. Lebih dari itu, keterlibatan dan kesadaran mereka untuk menggelar pameran kriya pada tiga Institusi Kriya ini dapat dilihat sebagai ajang dialog untuk terus menjalin dan mengembangkan komunikasi kreatif-dinamis demi pengembangan wacana dan praktik kriya yang diharapkan mampu membumi ke ranah publiknya, sebagai makna filosofis kriya yang memang dilahirkan dari kreativitas rakyat, meskipun sudah diramu dengan beragam kemungkinan estetik yang lebih kontemporer. Akhirnya, Benteng Vredeberg Yogya akan menjadi saksi dari sebuah gerakan para kriyawan muda untuk terus menggerakkan kesadaran dan keyakinan akan kekriyaan yang sudah semestinya terus dimunculkan, bukan di ruang belakang, tetapi di ruang depan sehingga biarkanlah publik menikmati, menilai, mengumpat, mengejek atau bahkan tertegun demi melihat sebuah usaha serius untuk bergerak. Itu semua akan semakin memperkaya wacana dan inspirasi kreatif bagi sebuah penciptaan. Selamat berpameran dan selamat bergerak demi sebuah kemajuan, bukan kemunduran yang membelenggu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar