Kamis, 07 Mei 2009

“FRONT SPACE

Oleh: Aris B.M
Suarakarta, 28 April 2008


Memposisikan Diri pada Wilayah Heterodoxy!
Kalau mau menelusuri lebih jauh praktik seni rupa Indonesia , ada persoalan yang dari awal keberadaannya sampai sekarang belum terpecahkan, yaitu berkaitan dengan politik kekuasaan barat. Hal ini terkait dengan praktik hegemoni barat terhadap seni rupa tradisi nusantara. Seni rupa tradisi nusantara yang berasal dari peradaban dan produk budaya Indonesia, oleh para praktisi seni rupa barat dianggap tidak ada, dan hanya dipandang sebagai sebuah hasil kerajinan saja. Mereka mengingkari bahwa dalam kriya nusantara, di samping bentuk visual yang artistik maupun estetik juga mengandung filosofi dan makna yang dalam. Hegemoni ini semakin kuat ketika jeda waktu kultivasi atau penanaman nilai yang akhirnya membentuk patron punya rentang waktu cukup panjang.
Kalau merujuk teori Bourdieu; dalam “Symbolic of Power”, hegemoni praktik seni rupa Indonesia tidak dirasakan karena telah menjadi habitus atau kebiasaan. Seluruh aparatus penyangga struktur seni rupa Indonesia, baik seniman, kritikus, kurator, kolektor, institusi seni, dan akademi seni telah terkultivasi, sehingga sudah tidak terjadi lagi aksi pro kontra (ortodoxy dan heterodoxy) yang mempermasalahkan itu. Semua berjalan wajar seperti tak ada persoalan. Seperti kecenderungan dalam praktik bidang yang lain di Indonesia, kita terlanjur melakukan simplifikasi atau menyederhanakan persoalan. Dengan sendirinya, keputusan dalam memecahkan sebuah persoalan menjadi sangat sederhana, hanya menyentuh permukaan bukan pada pokok atau inti permasalahannya.
Beruntung di tengah kecarut-marutan praktik seni rupa Indonesia yang sangat hingar bingar ini, muncul beberapa pemikiran untuk menyoal kembali posisi seni kriya dalam medan pertarungan wacana seni rupa global. Lebih menarik lagi, kesadaran itu justru muncul dari kalangan anak-anak muda. Seperti apa yang digagas dalam pameran “FRONT SPACE” yang diikuti oleh mahasiswa kriya ISI Surakarta, ISI Denpasar dan ISI Yogyakarta ini. Pamerannya sendiri bertujuan untuk menegaskan kembali eksistensi kriya di tengah-tengah wacana seni rupa dengan wajah-wajah baru yang kian berkembang sejalan dengan perjalanan estetik para senimannya dan mendorong kriya menempati ruang muka dalam dunia seni rupa Indonesia.
Anak-anak muda yang terlibat dalam pameran ini adalah mahasiswa kritis yang memposisikan dirinya pada wilayah heterodoxy. Menolak kultivasi yang diberikan oleh pendahulunya. Mereka coba membangun wacana baru untuk menghancurkan wacana lama yang sudah menjadi satu rejim kebenaran yang melembaga.Tanpa sadar mereka telah melakukan resistensi terhadap globalisasi ideologi seni rupa barat yang praktiknya sudah dimulai sejak jaman kolonialisme.
Dengan merangkul mahasiswa dari delapan akademi seni yang lain (UNY Yogyakarta, UST Yogyakarta, ISI Denpasar, STSI Bandung, ITB Bandung, IKJ Jakarta, STSI Padang Panjang, dan STKW Surabaya), semoga apa yang mereka gagas dan lakukan ini menjadi gumpalan bola salju. Terus bergerak dan membesar, sehingga proses pemarjinalan seni rupa nusantara dapat dihentikan. Semoga pula apa yang mereka kerjakan tidak hanya sebatas pada retorika sesaat yang bikin “SURPRISSE”, tetapi betul-betul langkah nyata yang berkelanjutan.
Akhir kata, selamat berjuang bagi peserta pameran dan selamat berfikir ulang bagi apresian yang datang. Karena ruh dari pameran ini sebetulnya adalah ingin mengajak apresian untuk masuk pada wilayah perenungan terhadap posisi seni rupa nusantara yang telah lama termarjinalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar