Rabu, 29 September 2010

fo(u)rplay pameran seni kriya empat kota

fo(u)r-play
kwartologi seni kriya indonesia
sebuah pameran seni kriya empat kota

awalan.

fo(ur)play adalah sebuah projek pameran seni kriya yang di garap oleh beberapa mahasiswa dari empat kota di Indonesia, empat kota tersebut ialah : Jakarta, Jogja, Solo ,dan Bandung. Projek ini di motori oleh mahasiswa kriya dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selaku tuan rumah penyelenggaraan pameran seni kriya ini. Pameran ini bertempat di Galeri Japan Foundation, gedung summitmas, jl.jendral Sudirman kav. 61-62, Jakarta pusat. 9-22 juli 2010. Karya yang disuguhkan lebih dari seratus karya dengan berbagai media, bentuk dan display.

Kwartologi seni kriya Indonesia

Adalah fo(u)r play, kata ini di pilih untuk mempresentasikan beberapa gagasan yang ingin diutarakan kepada public dan audiens. Fo(ur)play dapat kita pilah secara epistimologi menjadi dua suku kata, satu adalah kata –four- dan –play- yang kurang lebih berarti dalam bahasa Indonesia adalah -empat- dan- per-mainan-/ ber-main-/ -main / -mulai-. Dalam artian sederhananya kurang lebih adalah empat permainan – empat mulai / empat yang bermain / yang bila dapat di tafsir secara sederhana yaitu: empat wilayah / empat kota yang sedang melakukan aktivitas –“main”- atau aktifitas yang bermakna lain yaitu - “mulai”-. “Main” dalam artian bukan yang sebenarnya, namun lebih dalam wilayah – wilayah -“main”- ide dan gagasan kreatif yang dipresentasikan dalam wujud karya seni kriya, atau secara singkat dapat di gabungkan menjadi: empat yang sedang -“mulai”-“main”- mempresentasikan ide dan gagasan kreatif mereka dalam wujud karya seni kriya.

Tafsiran kedua adalah kata fo(u)rplay dengan tanpa huruf (u) dalam kata four yang berarti -for- yang bermakna kurang lebih “untuk” . jika tafsiran ini yang dipakai maka kurang lebih bermakna untuk me-mulai- atau untuk –main- .Atau jika digabung secara keseluruhan arti kata forplay tentu bermakna lebih luas lagi, semacam persiapan atau pemanasan sebelum melakukan aktifitas yang dianggap penting. Dan dimungkinkan masih banyak tafsiran lain dari tema ini.

Yang jelas, pameran ini diikuti oleh mahasiswa –mahasiswi dari empat wilayah strategis seni di Indonesia, betapa tidak, kota itu ialah Jakarta, jogja, solo dan bandung. Pertama Jakarta, sebagai ibukota dan pusat pemerintahan Indonesia yang dikota ini jelas secara umum sangat kondisional dengan segala sarana dan prasarana, jaringan kepada public dan audianspun secara terbuka dapat terhubung langsung dengan dunia internasional. Jakarta sebagai magnet ekonomi dan politik tentu menjadikan kota ini menjadi semacam kota impian yang tentu juga memiliki dan melahirkan manusia- mahasiswa yang memiliki kepekaan yang tinggi atas fenomena-fenomena tersebut.
Kedua adalah jogja, sebuah kota kecil yang dijuluki sebagai kota budaya dan ibukota seni rupa Indonesia tentu mempunyai posisi dan potensi yang perlu diperhitungkan, dikota kecil ini wilayah wilayah pergerakan seni rupa terlahir dan terus berjalan hari demi hari dan tentu juga membuat para manusia-mahasiswa “ter-godog” /termasak dalam kawah candra dimuka. Wilayah estetik karya karyanyapun tentu seharusnya mempunyai karakteristik yang dapat di baca dan berbeda.

Ketiga ialah solo, sebuah kota wilayah yang sangat kental dengan nilai – nilai luhur tradisi yang sangat kuat. Sebuah wilayah yang dapat dikatakan sebagai ibukota untuk masyarakat ataupun pelaku seni yang tetap menjunjung tinggi nilai nilai luhur budaya mereka, hal ini tentu mempengaruhi ide dan gagasan para manusia-mahasiswa diwilayah ini dalam menciptakan karya karya mereka dan mempunyai karakteristik yang unik yang jarang dimiliki wilayah lain.

Bandung adalah kota keempat. Bandung sebagai kiblat dan ibukota dalam wilayah fashion di indonesia, dan busana, tentu memiliki kekuatan kekuatan yang tentu sulit di tandingi wilayah lain, karena perkembangan seni di wilayah ini juga sangat pesat.

Pada wilayah kekaryaanpun dari keempat wilayah ini mempunyai karakteeristik yang berbeda-beda dan mempunyai keunikan tersendiri. Wilayah Jakarta yang di suguhkan oleh mahasiswa kriya IKJ, menyuguhkan karya-karya dengan media kayu, keramik, dua media inilah yang banyak dipilih , karya kayu yang ada didominasi dengan karya karya dengan teknik laminasi yang sangat artistic dan unik, ukuran karya memang tidak terlalu besar, ukuranya kecil dan bentuknyapun sederhana, namun dengan penggarapan dengan teknik laminasi yang perfec, hasilnyapun menjadi maksimal dan memiliki visual yang menarik. Objek yang di garap bermacam macam, sebagian besar adalah objek-objek temuan sehari hari, semisal pena, pisau, kotak dan lain lain. Karya kayupun ada yang di-mix- dengan material logam dalam sebuah panel 2 dimensi, membuat kesan materi terasa lebih berat dan kuat. Begitu juga dengan karya keramiknya, stoneware menjadi material yang banyak dipilih serta dengan glasir yang berfariasi, bukan hanya objek yang digarap dengan tujuan karya dalam ruang, karya karamikpun ada yang di presentasikan untuk senipublic. Ide yang dipresentasikan dalam karya mereka luas dan sederhana, namun tidak sedikit dalam gagasan yang intelektual .

Karya karya dari jogja yang disuguhkan oleh mahasiswa kriya dari ISI Yogyakarta memiliki karakteristik yang berbeda, para mahasiswa jogja ini lebih cenderung banyak mengeksplorasi material dan tidak sedikit karya karya yang bermaterial campuran, yang dodominasi campuran materi kayu, logam, dan serat kain. Karya kayu lebih banyak digarap dengan teknik pahat, baik dengan wujud scluptris – objek – naratif, ataupun bentuk imajinatif dan surialis. Terdapat juga karya logam dengan material re-cicle dengan campuran kayu, juga karakteristik karya dengan materi serat kain yang banyak diolah dengan teknik batik yang unik, batik yang disuguhkan tidak seperti teknik batik pada umumnya, teknik batik yang digunakan adalah salah satunya dengan teknik pointilis. Juga terdapat karya tekstil dengan media sutra yang terlihat karakteristik kejawaanya. Karya lainya lagi dengan teknik kolase kain. Ide dan gagasan yang dipresentasikan beragam, namun lebih didominasi karya karya dengan muatan kritik , baik kritik social ataupun kritik dalam wilayah kejiwaan, serta historical.

Karya-karya dari bandung yang di suguhkan oleh mahasiswa mahasiswa kriya ITB beragam, dari material keramik dan serat kain, serta material campuran lain, karya keramik lebih banyak mengolah pewarnaan dalam glasir keramik, bentuknya dipresentasikan dalam panel 2 dimensi, kemudian pada wilayah kain juga sangat kental dan karakteristik fashion sangat erat, desain desain yang modern disuguhkan dalam display manekin yang menyatu dan elegan, juga terdapat karya kain dengan teknik batik yang unik diatas sutra yang terlihat bersih dan komposisi warna yang elegan. Banyak gagasan yang dipresentasikan dengan mengolah wilayah wilayah permainan komposisi warna.

Wilayah solo sangat erat dengan nilai nilai luhur budaya mereka. Begitu juga dengan karya karya mereka, dapat langsung ditebak ketika kita melihat sederetan karya 2 dimensi panel dengan dominasi teknis sungging wayang beber yang sangat khas dengan gradasi warna yang unik. Karya wayang beber mendominasai karya dari mahasiswa dari solo yang diwakili dari ISI Surakarta dan UNS, karya yang lain lagi berupa karya dengan material logam yang juga sangat erat dengan teknis local genius solo, yaitu dengan metal pamor, karya berupa objek keris dengan teknik pamor yang tinggi, uniknya dari karya ini adalah bentuk pamor yang biasa digunakan dalam keris ini di terapkan pada objek samurai, dan juga pada keris yang berakulturasi dengan bentuk pedang. Juga terdapat karya logam panel dengan gambaran wayang dan beberapa bentuk imajinatif. Karya lain juga terdapat media campuran, ide yang dipresentasikan nampaknya banyak pada wilayah wilayah akulturasi budaya dan juga kritik social, karya lain dari mahasiswa UNS juga mempunyai karakteristik yang lain lagi, yakni dengan mengolah wilayah tekstil dengan gaya dan teknik unik pada kain dengan figure tokoh dalam karyanya.

Gagasan mempertemukan karya karya seni kriya dari empat kota ini tentunya sangat menarik, lain halnya dengan temu karya mahasiswa kriya Indonesia yang tergabung dalam kegiatan “surprisse” yang telah tergarap empat kali sejak 2006.
Dalam fo(ur)play ini lebih menajamkan karakteristik dari empat wilayah penting perkembangan seni di Indonesia, bukan berarti wilayah lain tidak penting, namun keempat wilayah ini dipilih untuk menunjukan perkembangan seni kriya yang uptudate. Dikesempatan lain fourplay ini dimungkinkan akan bergerak ke jogja dalam waktu yang belum ditentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar